Ikuti Kami

Hasto Wardoyo Dorong Generasi Muda ikut Cegah Stunting

Bonus demografi bisa membawa masyarakat menuju kesejahteraan, tetapi juga bisa menjadi bencana.

Hasto Wardoyo Dorong Generasi Muda ikut Cegah Stunting
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Sleman Gesuri.id - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam upaya pencegahan stunting sebagai kunci keberhasilan Indonesia memanfaatkan momentum bonus demografi. 

Hasto menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam fase bonus demografi, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Menurutnya, peluang ini hanya akan memberikan manfaat apabila kualitas sumber daya manusia (SDM) dipersiapkan sejak dini.

“Bonus demografi bisa membawa masyarakat menuju kesejahteraan, tetapi juga bisa menjadi bencana demografi jika kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik. Penentunya adalah generasi muda saat ini,” ujar Hasto.

Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis

Ia menekankan bahwa generasi muda saat ini merupakan generasi “sandwich” yang memiliki tanggung jawab ganda. Selain menopang orang tua, mereka juga harus mempersiapkan generasi berikutnya. Karena itu, kualitas kesehatan, pendidikan, dan produktivitas generasi muda menjadi faktor penentu masa depan bangsa.

Hasto menyebutkan sejumlah syarat untuk mewujudkan Indonesia maju pada 2045, di antaranya generasi yang sehat, bebas stunting, tidak putus sekolah, serta memiliki produktivitas kerja yang tinggi. Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas SDM melalui pendekatan Human Capital Index (HCI), indikator yang menilai kontribusi kualitas manusia terhadap produktivitas dan pembangunan.

Menurut Hasto, stunting merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi kualitas SDM. Ia menjelaskan bahwa sekitar 70 persen penyebab stunting berasal dari faktor sensitif seperti lingkungan, sanitasi, air bersih, pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga. Sementara itu, hanya 30 persen yang disebabkan oleh faktor spesifik seperti kekurangan gizi atau penyakit. “Pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperbaiki ekosistem kehidupan anak, mulai dari lingkungan yang sehat, sanitasi yang baik, hingga pola pengasuhan yang tepat,” jelasnya. Hasto menambahkan bahwa pencegahan stunting sebaiknya dimulai sejak pra-konsepsi, bahkan sebelum pernikahan. Pemeriksaan kesehatan calon pengantin dan pemantauan kondisi gizi perempuan menjadi langkah penting untuk memastikan anak yang lahir tumbuh sehat.

Baca: Ganjar Ingatkan Anak Muda Harus Jadi Subjek Perubahan

Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga memaparkan capaian penanganan stunting di Kota Yogyakarta. Berdasarkan data, angka stunting berhasil ditekan dari 14,8 persen pada 2024 menjadi sekitar 8,2 persen pada 2025. Penurunan ini dilakukan melalui pendataan calon pengantin, pemantauan ibu hamil, serta pemberian intervensi gizi bagi kelompok berisiko.

Melalui kajian yang dihadiri mahasiswa UGM itu, Hasto berharap generasi muda semakin memahami pentingnya menjaga kualitas kesehatan dan lingkungan sejak dini. “Mahasiswa harus menjadi motor penggerak dalam menciptakan generasi unggul di masa depan,” tegasnya.

Dengan komitmen bersama, Hasto optimistis Indonesia mampu mengubah bonus demografi menjadi peluang emas menuju kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Quote