Ikuti Kami

Industri Mamin Hadapi Tekanan, Ida Nurlaela Dorong Pemerintah Tekan Biaya Produksi

Menurut Ida, tekanan yang dihadapi industri mamin tidak hanya berasal dari sisi permintaan.

Industri Mamin Hadapi Tekanan, Ida Nurlaela Dorong Pemerintah Tekan Biaya Produksi
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata.

Jakarta, Gesuri.id - Industri makanan dan minuman (mamin) nasional masih mencatatkan pertumbuhan di tengah tekanan permintaan dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama karena pelaku industri juga menghadapi peningkatan biaya produksi, kemasan, hingga logistik.

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata, mengatakan pemerintah perlu memastikan kebijakan di sektor industri dan distribusi tidak semakin menambah beban pelaku usaha maupun masyarakat sebagai konsumen.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

Menurut Ida, tekanan yang dihadapi industri mamin tidak hanya berasal dari sisi permintaan. Kenaikan harga bahan baku, biaya kemasan, serta tingginya ongkos logistik turut membuat biaya produksi tetap berada pada level yang relatif tinggi.

“Kalau kita melihat kondisi industri makanan dan minuman saat ini, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah, yaitu tekanan terhadap biaya produksi. Harga bahan baku naik, biaya kemasan meningkat, dan ongkos logistik juga semakin tinggi,” ujar Ida kepada wartawan di Jakarta, Kamis (3/9).

Ia menilai pemerintah perlu mencari langkah konkret untuk menekan biaya produksi dari sisi hulu hingga distribusi. Efisiensi tersebut penting agar kenaikan biaya tidak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga.

“Kita harus mencari jalan agar biaya produksi bisa ditekan, tetapi jangan juga sampai seluruh kenaikan biaya tersebut akhirnya dibebankan kepada konsumen,” katanya.

Ida menekankan, persoalan biaya produksi dan distribusi menjadi semakin penting di tengah daya beli masyarakat yang masih menghadapi tekanan. Ketika harga produk meningkat, ruang konsumsi masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah, berpotensi semakin terbatas.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu melihat persoalan industri mamin secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan dan harga bahan baku, biaya produksi, efisiensi kemasan, hingga distribusi dan logistik.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

“Pemerintah juga harus menekan biaya dari hulu hingga distribusi. Industri pangan itu harus tetap tumbuh, tetapi konsumen juga harus tetap terlindungi,” tegas Ida.

Menurutnya, keberlangsungan industri dan perlindungan konsumen tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua kepentingan yang bertentangan. Industri membutuhkan iklim usaha yang sehat agar dapat terus berproduksi dan menyerap tenaga kerja, sementara masyarakat membutuhkan harga pangan yang tetap terjangkau.

“Jangan sampai industri kita diminta terus tumbuh dan bersaing, tetapi biaya produksinya terus meningkat. Dan jangan sampai pula konsumen yang akhirnya harus menanggung seluruh kenaikan tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan industri mamin secara umum masih mencatatkan pertumbuhan, meski kinerjanya belum merata di seluruh kategori. Produk makanan pokok relatif mampu bertahan karena merupakan kebutuhan utama masyarakat, sementara permintaan terhadap produk makanan sekunder cenderung lebih lemah.

Quote