Jakarta, Gesuri.id - Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengirim siswa bermasalah ke barak TNI mulai Oktober 2026 mendapat perhatian serius dari legislatif Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Program pembinaan yang dirancang berlangsung selama dua hari satu malam tersebut dinilai perlu dikaji secara matang sebelum diterapkan.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tangsel, Adi Surya Purba, menyatakan bahwa langkah Pemprov Banten dalam merespons fenomena kenakalan remaja harus disertai catatan mendasar terkait bentuk dan mekanisme pelaksanaannya.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Menurutnya, pembinaan di barak tidak boleh sekadar menjadi bentuk hukuman fisik atau pendekatan militeristik.
"Pembinaan di barak harus mengedepankan pola pengasuhan yang humanis, edukatif, serta pemulihan karakter (rehabilitatif), bukan melalui pendekatan militeristik atau hukuman fisik," kata Adi, Selasa (6/10).
Adi menekankan pentingnya memasukkan unsur kedisiplinan positif, pembentukan mental, serta bimbingan konseling dalam program tersebut. Dengan begitu, siswa tidak hanya dibina secara singkat, tetapi juga dibantu untuk memahami dan mengatasi akar persoalan perilaku mereka.
Selain itu, ia mewanti-wanti agar lokasi pembinaan dijamin menjadi lingkungan yang aman dan bebas dari segala potensi kekerasan.
"Kita harus memastikan lingkungan pembinaan aman dari segala bentuk kekerasan fisik maupun psikologis yang berpotensi menimbulkan trauma baru bagi siswa," tegasnya.
Lebih lanjut, Adi menilai pembinaan di barak tidak bisa dijadikan solusi tunggal atau instan (quick fix) untuk mengatasi kenakalan remaja. Sebab, perilaku bermasalah pada siswa umumnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan di luar sekolah.
Oleh karena itu, ia mendorong pendekatan yang menyeluruh dengan melibatkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial anak.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
"Harus ada pelatihan pola asuh (parenting) dan keterlibatan aktif orang tua. Di sisi lain, sekolah perlu memperkuat pengawasan dan siap merangkul kembali siswa setelah masa pembinaan selesai," tutur Adi.
Ia menambahkan, pembinaan tidak boleh terhenti saat siswa keluar dari barak. Pendampingan dan evaluasi secara berkala mutlak diperlukan agar perubahan perilaku siswa dapat bertahan dalam jangka panjang.
"Harus ada program evaluasi dan mentoring berkesinambungan agar anak tidak kembali ke pola perilaku lama," pungkasnya.

















































































