Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan yang juga Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., mengungkapkan keterbatasan daya listrik menjadi salah satu penyebab belum maksimalnya pelaksanaan program bantuan budidaya ikan sistem bioflok di berbagai daerah.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, sekitar 70 persen bantuan bioflok dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Indonesia dinilai belum berjalan optimal akibat lemahnya sistem aerasi yang membutuhkan pasokan listrik memadai.
"Saya harus jujur, sekitar 70 persen bantuan bioflok KKP di Indonesia belum maksimal. Setelah saya cek, biang keroknya jelas: aerasi. Daya yang diberikan dalam paket bantuan hanya 100 watt. Mana mungkin kuat mengaduk? Oksigen di dasar kolam rendah, flok tidak jadi, proses biologisnya mati," ungkap Prof. Rokhmin, dikutip Minggu (1/11/2026).
Menurut Rokhmin, persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program bantuan pemerintah tidak cukup hanya dengan menyediakan kolam, bibit ikan, dan pakan. Dukungan infrastruktur penunjang, khususnya ketersediaan listrik yang stabil, juga harus menjadi perhatian agar sistem bioflok dapat beroperasi secara optimal.
Salah satu contoh keberhasilan penerapan sistem tersebut ditemukan di Kelompok Belawa Selfish, Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Kelompok pembudidaya ikan ini mampu mengembangkan budidaya bioflok dengan memanfaatkan aerator rakitan berdaya 200 hingga 300 watt pada setiap kolam berdiameter empat meter.
Bayu (32), salah satu pembudidaya ikan di kelompok tersebut, mengatakan bahwa penambahan daya listrik menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan budidaya. Pasalnya, sistem bioflok sangat bergantung pada aerator yang harus beroperasi secara terus-menerus untuk menjaga kadar oksigen dan kehidupan mikroorganisme di dalam kolam.
"Taruhannya nyawa ikan. Kalau listrik PLN di sini byar-pet, selesai sudah. Aerator mati 30 menit saja, ikan saya bisa mabuk massal. Alhamdulillah, sejak kami tambah daya ke PLN, listrik stabil terus. Aerator muter terus, ikan sehat," tutur Bayu.
Ia menjelaskan, kestabilan pasokan listrik membuat aerator dapat bekerja selama 24 jam sehingga kondisi air dan kesehatan ikan tetap terjaga. Dengan demikian, risiko kematian ikan akibat kekurangan oksigen dapat ditekan.
Dampak penggunaan aerasi yang memadai juga terlihat dari sisi efisiensi produksi. Penggunaan pakan pelet komersial dapat dihemat hingga 30 persen karena ikan turut memanfaatkan flok alami sebagai sumber pakan. Selain itu, kebutuhan pergantian air berkurang hingga 70 persen, sementara masa pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat sekitar 15 hari.
Dari sisi ekonomi, satu kolam bioflok berdiameter empat meter di kelompok tersebut mampu menghasilkan keuntungan bersih hingga Rp3,5 juta dalam satu siklus panen selama tiga bulan. Angka ini menunjukkan potensi budidaya bioflok apabila didukung teknologi dan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Temuan tersebut turut mendapat perhatian PLN ULP Cirebon Kota, yang wilayah kerjanya mencakup Kecamatan Lemahabang. Keandalan pasokan listrik untuk sektor produktif, termasuk perikanan dan pertanian, dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
PLN ULP Cirebon Kota menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan penambahan daya serta menjaga keandalan pasokan listrik bagi kelompok tani dan pembudidaya ikan di Kabupaten Cirebon. Dukungan tersebut sejalan dengan program transformasi PLN melalui Electrifying Agriculture yang mendorong pemanfaatan energi listrik untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan perikanan.
Berdasarkan data PLN UID Jawa Barat, hingga Oktober 2026, lebih dari 1.200 petani dan pembudidaya ikan di Cirebon telah beralih dari penggunaan mesin diesel ke listrik PLN melalui program Electrifying Agriculture. Total daya yang tersambung mencapai 4,2 MVA dan turut mendorong pertumbuhan konsumsi listrik sektor produktif sebesar 18 persen.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan listrik tidak lagi sebatas memenuhi kebutuhan penerangan rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian dari penggerak kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk usaha budidaya perikanan.
Rokhmin mengatakan, pengalaman Kelompok Belawa Selfish perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menyusun dan menyalurkan program bantuan bioflok ke depannya. Ia berencana membawa temuan tersebut sebagai pembelajaran nasional dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama KKP dan PLN di Jakarta.
"Bantuan yang baik itu harus sesuai kebutuhan lapangan. Kita tidak bisa memberi kolam dan ikan tanpa memberi napas yang cukup. Napas itu adalah listrik. Pengalaman Belawa Selfish dengan dukungan listrik PLN 300 watt ini harus menjadi standar baru nasional. Dengan begitu, bioflok benar-benar menyejahterakan, bukan malah membebani pembudidaya," jelas Prof. Rokhmin.
Pengalaman pembudidaya di Desa Belawa menjadi gambaran bahwa keberhasilan program ketahanan pangan membutuhkan perencanaan bantuan yang sesuai dengan kondisi lapangan. Ketersediaan sarana budidaya harus diimbangi dukungan energi listrik yang andal agar produktivitas meningkat dan manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

















































































