Blitar, Gesuri.id – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menggelar ziarah ke makam Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (7/11/2026) sore.
Ia melakukannya jelang Hari Pahlawan 10 November, sekaligus tak jauh dari putusan Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung (MA) mengenai perkara ijazah palsu. Mengenakan kemeja berwarna putih, Hasto turut didampingi Anggota DPR RI Kanang Budi Sulistiyo, Anggota DPRD Kabupaten Blitar, Sugeng Praptono hingga Ketua Soekarno Run Blitar Rera.
Tiba di pusara makam Bung Karno, Hasto bersama rombongan langsung mengambil tempat dengan duduk bersila. Sebelum memanjatkan doa, ia terlihat menunduk sambil memandangi makam Bung Karno yang telah penuh dengan tumpukan bunga tabur.
Juru kunci makam Bung Karno, Mat, pun memimpin rombongan Hasto untuk berdoa di pusara makam Bung Karno.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

Suasana hening penuh khusyuk pun tergambar di kompleks makam Bung Karno. Lantunan ayat suci pun dipanjatkan.
Hasto bersama rombongan pun tertunduk sambil mendengarkan sang juru kunci makam membacakan doa.
Usai doa, Hasto terlihat memimpin rombongan untuk menabur bunga. Ia tampak menata dan memilih bunga satu persatu dan menaruhnya di makam Bung Karno.
Hasto juga tak lupa berdoa dan menabur bunga di makam Ibu dan Bapak dari Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai dan Raden Soekeni Sosrodihardjo.
Sebelum meninggalkan makam, Hasto secara khusus kembali ke tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Ia berdoa kembali dengan khusyuk. Selama kurang lebih satu menit, Hasto memanjatkan doa di makam Bung Karno.
Sambil tertunduk, ia berdoa sambil meletakan kedua tangannya menyentuh makam. Aroma wangi melati dan sedap malam bercampur dengan heningnya suasana sore.
Sentuhan kedua tangan Hasto di atas nisan Bung Karno seolah menjadi ruang perenungan batin yang mendalam tentang arah perjalanan bangsa.
Usai berziarah makam, Hasto menyampaikan bahwa ziarah ini dilakukan secara khusus menyongsong momentum Hari Pahlawan guna meneguhkan kembali spirit awal pendirian Republik Indonesia.
"Jadi pada hari ini kami secara khusus nyekar ke makam Bung Karno, proklamator dan bapak bangsa Indonesia. Ya sekaligus juga dalam rangka peringatan Hari Pahlawan untuk menggelorakan kembali bahwa Republik Indonesia ini dibangun
dengan cita-cita besar untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yang berdaulat, yang berpihak kepada rakyat marhaen, rakyat yang tertindas, yang diperlakukan tidak adil," ujar Hasto kepada awak media.
Politisi asal Yogyakarta ini menegaskan, kemerdekaan Indonesia ditebus dengan tetesan darah serta pengorbanan teramat besar dari para pahlawan kusuma bangsa.
Oleh karena itu, pengorbanan luhur tersebut pantang disia-siakan dan harusnditerjemahkan ke dalam tata kelola pemerintahan yang berpihak sepenuhnya pada kepentingan rakyat.
"Kami mengambil spirit dari itu, bahwa Indonesia merdeka karena pengorbanan begitu banyak pahlawan bangsa. Pengorbanan ini tidak boleh disia-siakan dan harus dijabarkan dalam suatu tata pemerintahan negara di mana seluruh kebijakan-kebijakan yang diambil harus diupayakan untuk mewujudkan seluruh cita-cita proklamasi," tuturnya.
Di hadapan pusara Sang Putra Fajar, Hasto mengaku turut memanjatkan doa khusus agar bangsa Indonesia dijauhkan dari anasir-anasir kekuasaan yang manipulatif dan menyimpang dari rel moralitas.
"Karena itulah pada kesempatan ini, kami juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Indonesia dapat dibebaskan dari berbagai anasir-anasir jahat yang mencoba menjauhkan dari cita-cita para pahlawan bangsa dengan berbagai ketamakan kekuasaan, dengan pengelolaan kekuasaan yang tidak lagi didasarkan pada
nilai-nilai etika, moral, dan kebenaran," tegasnya.
Hasto pun mengingatkan seluruh pejabat publik di tanah air agar tidak terjebak pada syahwat kekuasaan pribadi maupun kelompok.
Makna kekuasaan yang sejati, kata dia, adalah pengabdian yang berakar pada norma-norma luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Baca: Ganjar Peringatkan Skandal Penyadapan Tokoh Politik Bisa
"Di dalam menyongsong Hari Pahlawan itu kita diingatkan agar keteladanan, pengorbanan itu betul-betul kita kobarkan. Seluruh pejabat negara harus mengambil suatu inspirasi dari semangat pengorbanan tersebut, sehingga makna kekuasaan adalah untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan," jelas Hasto.
Ia menambahkan, keteladanan moral, ketaatan pada hukum, serta keberanian memperjuangkan keadilan sosial seharusnya menjadi kompas utama bagi siapa pun yang memangku amanah kenegaraan.
Prinsip tersebut, menurut Hasto, juga menjadi instruksi mutlak Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kepada seluruh kader partai banteng moncong putih di seluruh pelosok negeri.
"Keteladanan dari moral, etika, menjunjung tinggi hukum, dan berjuang bagi keadilan serta kemakmuran rakyat, itu seharusnya yang menjadi pegangan seluruh pejabat negara. Termasuk juga bagi PDI Perjuangan yang oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, kami selalu diinstruksikan untu terus melakukan kritik dan otokritik agar PDI Perjuangan juga dapat mengawal pada rel yang benar terhadap seluruh gerak napas kehidupan berbangsa dan bernegara kita," pungkas Hasto.

















































































