Ikuti Kami

Pendidikan Barak Militer Jangan Jadi Ajang Hukuman

“Barak jangan menjadi tempat untuk menghukum anak. Barak harus menjadi ruang pembelajaran karakter.”

Pendidikan Barak Militer Jangan Jadi Ajang Hukuman
Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PDI Perjuangan, Yeremia Mendrofa.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PDI Perjuangan, Yeremia Mendrofa, menyoroti rencana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten yang hendak melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pembinaan siswa bermasalah.

Ia menilai proses pembinaan siswa SMA/SMK di barak militer harus dikemas secara edukatif dan humanis.

“Barak jangan menjadi tempat untuk menghukum anak. Barak harus menjadi ruang pembelajaran karakter,” ujar Yeremia, Rabu (30/9/2026).

Yeremia mengaku tidak menentang rencana Dindikbud Banten dalam melakukan pendidikan karakter di barak militer. Namun, Anggota DPRD Banten dari Komisi V ini memberikan catatan serius agar keterlibatan TNI dalam program tersebut tidak bergeser menjadi bentuk hukuman bagi peserta didik.

Ia menegaskan, barak militer tidak boleh dijadikan tempat untuk menghukum, apalagi menakut-nakuti peserta didik. Menurutnya, upaya pemerintah daerah dalam membangun kedisiplinan, karakter positif, serta jiwa bela negara peserta didik pada prinsipnya patut didukung.

Oleh karena itu, Yeremia menilai keterlibatan TNI dapat memberi dampak positif sepanjang berkedudukan sebagai mitra pendidikan, bukan menggantikan peran utama guru, sekolah, maupun orang tua.

Ia menekankan pentingnya pendekatan yang proporsional. Menurutnya, anak-anak yang membutuhkan pembinaan harus dibimbing dan diarahkan, bukan dipermalukan atau ditakut-takuti. Pendekatan disiplin yang diterapkan boleh tegas, tetapi wajib menjunjung tinggi nilai-nilai edukatif.

Lebih jauh, Yeremia meminta Pemprov Banten menyiapkan mekanisme, indikator, dan standar operasional yang transparan agar program tersebut tidak melebar dari tujuan awal. Kejelasan mengenai kriteria siswa yang membutuhkan pembinaan, proses asesmen, hingga keterlibatan pendampingan psikologis dan orang tua juga dinilainya sebagai syarat penting.

“Kita juga harus melihat akar persoalannya jika ada siswa yang terlibat tawuran, membolos, atau melakukan pelanggaran berat. Bisa jadi ada masalah keluarga, lingkungan pergaulan, atau tekanan psikologis. Jangan sampai kita hanya menangani gejalanya, tetapi lupa menyelesaikan akar masalahnya,” tegasnya.

Menurut Yeremia, nilai-nilai positif militer seperti disiplin, kepemimpinan, loyalitas, dan cinta tanah air memang sangat berguna. Namun, penerapannya kepada peserta didik harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan jiwa anak.

Ia juga mendorong agar pembentukan karakter dan kepemimpinan tidak hanya diperuntukkan bagi siswa bermasalah, tetapi dapat diakses oleh seluruh peserta didik. Dalam penerapannya, ia meminta Pemprov Banten melakukan evaluasi berkala secara terukur.

Legislator PDI Perjuangan ini mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya dinilai dari kepatuhan siswa selama mengikuti kegiatan singkat di barak. Menurutnya, ukuran keberhasilan juga harus terlihat dari perubahan perilaku nyata ketika siswa kembali ke lingkungan sekolah dan keluarga.

“Tujuan akhirnya bukan membuat anak takut kepada aturan, tetapi membuat mereka paham mengapa aturan harus dihormati dan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Masa depan Banten ada di tangan anak-anak kita hari ini,” pungkasnya.

Quote