Jakarta, Gesuri.id – Anggota MPR/DPR RI Putra Nababan mengingatkan ratusan kader Dasa Wiswa di Jakarta Timur tentang ancaman algoritma media sosial yang mulai menggerus karakter anak-anak sejak dini.
Dia pun mendorong para ibu untuk kembali menjadikan nilai-nilai gotong royong dan Pancasila sebagai perisai utama keluarga.
"Hati-hati, kecenderungannya sekarang adalah gawai yang mengendalikan kita. Bangun tidur belum bilang selamat pagi kepada keluarga, tapi sudah melihat layar. Kita yang harus mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan kita," tegas Putra dalam Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, di Gedung LVRI Duren Sawit Jakarta Timur, Sabtu (20/6).

Baca: Ganjar Tegaskan Sikap PDI Perjuangan di Luar Pemerintahan
Putra lantas menyinggung tantangan terbesar keluarga saat ini bukanlah sekadar mengejar pencapaian akademik, melainkan menghadapi gempuran teknologi yang mengikis interaksi sosial sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa anak-anak yang berada di usia emas (golden age), khususnya di tingkat kelas 4 hingga 6 SD, sangat membutuhkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).
Keseimbangan inilah yang akan membentengi mereka dari dampak negatif dunia digital. Untuk melawan individualisme, Putra mengajak ibu-ibu Dasa Wiswa untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong dan empati di lingkungan terdekat.
Ia mencontohkan kebiasaan sederhana yang menjadi DNA sosial masyarakat Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain.

"Kalau ada tetangga atau saudara yang sakit, budaya kita mengajarkan untuk memasak, lalu makanannya kita bawa dan makan bersama keluarga yang sakit. Itu Indonesia. Kekuatan kita ada pada kepedulian di tingkat lingkungan, di mana kita memanfaatkan kekuatan diri kita masing-masing untuk berkolaborasi," paparnya.
Lebih lanjut, Putra Nababan menjabarkan bahwa nilai persatuan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bukanlah sekadar teks untuk dihafal, melainkan hasil dari pengorbanan dan toleransi tingkat tinggi para pendiri bangsa. Ia mengajak para ibu untuk merefleksikan kembali sejarah Sumpah Pemuda 1928 dan Piagam Jakarta.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

"Saat Sumpah Pemuda, meski Suku Jawa adalah mayoritas, mereka tidak memaksakan identitasnya, melainkan sepakat menjadi satu Bangsa Indonesia. Begitu juga saat perumusan dasar negara, tokoh-tokoh agama berbesar hati demi merangkul saudara-saudara dari seluruh Nusantara agar kita bersatu. Semangat toleransi dan kebersamaan inilah yang harus kita praktikkan dari rumah," jelasnya.
Sebagai penutup, Putra menaruh harapan besar pada kader Dasa Wiswa sebagai garda terdepan pembinaan keluarga di tingkat akar rumput.
"Anak-anak kita membutuhkan siraman rohani dan pembentukan karakter. Ketika kelak mereka menjadi tokoh masyarakat, gubernur, bupati, direktur, atau penggerak bangsa, mereka adalah orang-orang yang secara iman kuat dan secara intelektual tajam. Mari kita mulai kerja sama dan kolaborasi ini dari rumah kita masing-masing," tutup Putra, disambut tepuk tangan antusias para peserta.

















































































