Jakarta, Gesuri.id - Peringatan hari kelahiran Mohammad Hatta (Bung Hatta) tidak boleh berhenti sebatas romantisme sejarah.
Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menggali kembali pemikiran Sang Proklamator dan mengontekstualisasikannya dengan berbagai persoalan bangsa saat ini.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, usai menghadiri pagelaran naratif-musikal bertema "Membaca Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau" di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (30/8).
“Peringatan kelahiran Bung Hatta bukan hanya romantisme atas sosok penting dalam sejarah pendirian Republik Indonesia, melainkan ikhtiar untuk merelevansikan dan mengontekstualisasikan pemikirannya bagi Indonesia hari ini,” ujar Bonnie dalam keterangan resminya.
Baca:
Bonnie menjelaskan, kegiatan yang digagas PDI Perjuangan ini merupakan bagian dari tanggung jawab partai dalam menjalankan fungsi pendidikan sejarah dan pemajuan kebudayaan bagi masyarakat. Ia menepis pandangan bahwa partai politik sekadar mesin elektoral yang bergerak lima tahun sekali demi meraih kekuasaan.
“Partai politik bukan sekadar lembaga elektoral yang bekerja lima tahun sekali untuk menyusun kekuasaan, melainkan lembaga publik yang harus berpartisipasi aktif membangun peradaban Indonesia,” tegasnya.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Peringatan kelahiran Bung Hatta sendiri telah rutin digelar di lingkungan PDI Perjuangan sejak 2020. Acara ini berlandaskan pada spirit Dwitunggal Bung Karno dan Bung Hatta.
Menurut Bonnie, Dwitunggal tidak sekadar merujuk pada relasi Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, tetapi mencerminkan nilai kepemimpinan, gotong royong, kebersamaan, kesetaraan, serta keikhlasan dalam mengabdi kepada bangsa.
Ia berharap momentum ini meluaskan ruang diskusi mengenai gagasan kebangsaan di tengah dinamika tantangan zaman. Mengenang para pendiri bangsa, lanjutnya, harus dijadikan bahan refleksi kritis untuk menjawab persoalan masa kini.
Acara peringatan tersebut juga dihadiri oleh putri Bung Hatta, Halida Hatta, yang menyampaikan pidato mengenai pentingnya kemandirian, kemerdekaan berpikir, serta benang merah pemikiran Bung Hatta dan Bung Karno bagi masa depan Indonesia.

















































































