Jakarta, Gesuri.id — Rekam jejak kepemimpinan Ketua DPP PDI Perjuangan Tri Rismaharini kembali menjadi sorotan publik dalam sebuah sesi dialog bersama Afthon Lubbi.
Politisi perempuan senior dari PDI Perjuangan ini mengulas kembali perjalanan kariernya yang inspiratif, mulai dari panggung politik daerah hingga berhasil menembus diplomasi tingkat global.
Risma tercatat mengukir sejarah sebagai wali kota perempuan pertama di Indonesia yang dipilih secara langsung oleh rakyat melalui mekanisme pemilu.
Keberhasilan tersebut dipandang sebagai pencapaian krusial bagi representasi kaum perempuan dalam ranah politik nasional domestik. Legitimasinya di mata publik terbukti sangat kuat, terutama pada periode kedua kepemimpinannya di Kota Surabaya, di mana ia berhasil mengantongi kemenangan mutlak dengan perolehan suara mencapai 86,2 persen. Keberhasilan ini memperkuat posisi partainya dalam melahirkan figur-figur pemimpin perempuan yang berdaya tangguh di tingkat eksekutif.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Selama menakhodai Kota Pahlawan, iklim birokrasi dan inovasi pelayanan publik yang dibangun Risma berhasil membuahkan berbagai bentuk apresiasi secara konsisten. Mantan Wali Kota Surabaya ini mengungkapkan bahwa kota yang dipimpinnya tidak pernah absen dari perhatian lembaga penilai, baik dari instansi dalam negeri maupun komunitas internasional.
"Kalau penghargaan sih setiap tahun selalu ada, baik dari dalam maupun luar negeri itu berkisar antara 20 sampai 35 penghargaan setiap tahunnya," ungkap Risma dalam wawancara eksklusif dengan Moncong Publik.
Reputasi tata kelola perkotaan yang diakui dunia tersebut kemudian mengantarkan Risma menduduki posisi strategis dalam jaringan diplomasi antarkota internasional. Ia dipercaya menjabat sebagai Presiden United Cities and Local Governments (UCLG) Asia Pasifik, menggantikan posisi Gubernur Provinsi Jeju, Korea Selatan. Di samping memimpin wilayah regional Asia Pasifik, Risma juga didaulat untuk mengemban amanah sebagai Wakil Presiden pada organisasi induknya di tingkat global, yakni UCLG World.
Risma menceritakan bahwa keterpilihannya sebagai pimpinan tertinggi UCLG Asia Pasifik saat konferensi di Surabaya berlangsung secara independen dan tanpa intervensi kampanye personal. Ia sengaja memilih untuk tidak hadir langsung di ruang sidang paripurna demi menjaga objektivitas dan kebebasan hak suara para delegasi mancanegara. Jabatan internasional ini kemudian dimanfaatkannya secara optimal untuk misi kemanusiaan dan membantu penanganan bencana di tanah air.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Salah satu implementasi nyata dari jaringan diplomasi internasional tersebut terlihat saat musibah gempa bumi dan tsunami dahsyat melanda wilayah Palu dan Donggala pada tahun 2018 silam. Di sela-sela menghadiri agenda pertemuan UCLG dunia di Madrid, Spanyol, Risma menyempatkan diri singgah ke Paris untuk melakukan penggalangan dana kemanusiaan. Ia bergerak cepat mengonsolidasikan solidaritas serta bantuan finansial dan logistik dari perkumpulan wali kota di seluruh Prancis.
“Di Paris, saya menggalang sumbangan dari teman-teman wali kota se-Prancis dan alhamdulillah saat itu mendapatkan persetujuan bantuan. Kami sempat meninjau langsung ke lapangan bersama perwakilan dari perkumpulan wali kota se-Prancis tersebut. Kemudian disalurkanlah bantuan fasilitas air bersih untuk warga Palu yang perumahannya direlokasi,” kenang Risma mengenai perannya dalam pemulihan pascabencana.
Aksi kemanusiaan dan konsistensi kepemimpinan Risma diakui secara global, hingga membawanya masuk ke dalam daftar 50 tokoh paling berpengaruh di dunia (World's 50 Greatest Leaders) versi majalah ekonomi prestisius, Fortune. Dalam daftar eksklusif tersebut, posisi Risma bahkan bersanding ketat dengan sejumlah inovator industri teknologi berskala global. Risma tercatat menempati peringkat ke-24, berada dua tingkat di atas pendiri raksasa media sosial Meta, Mark Zuckerberg, yang menduduki urutan ke-26.
Pencapaian internasional yang monumental ini mempertegas posisi Tri Rismaharini sebagai salah satu tokoh perempuan Indonesia yang paling kontributif dan diakui secara internasional. Keberhasilannya mengintegrasikan kepemimpinan lokal dengan diplomasi global diharapkan dapat terus menjadi inspirasi bagi generasi muda perempuan di tanah air. Konsistensi kerja nyata Risma membuktikan bahwa dedikasi kepemimpinan daerah mampu memberikan dampak perubahan sosial yang signifikan hingga ke tingkat dunia.

















































































