Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan Empat Pilar MPR RI merupakan fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diikuti sekitar 150 mahasiswa di Aula STMIK IKMI Cirebon, dikutip Kamis (2/7/2026).
“Kita bersyukur para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat hal ini yang kemudian ditetapkan MPR RI sebagai 4 Pilar. Ini bukan sekadar hafalan, tapi nyawa bangsa,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 280 juta penduduk, ribuan pulau, ratusan suku, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Menurutnya, keberagaman tersebut dapat menjadi kekuatan besar apabila dikelola dengan baik, namun juga berpotensi memicu perpecahan jika tidak dijaga.
“Indonesia kuat karena meski berbeda suku, agama, ras, dan golongan, kita tetap pegang prinsip gotong royong. Jangan sampai kita kalah oleh hoaks, polarisasi, dan politik identitas,” lanjutnya disambut tepuk tangan mahasiswa.
Sebagai anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin juga menyoroti bonus demografi Indonesia. Ia menilai mahasiswa memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Saya titip tiga hal ke adik-adik mahasiswa,” ujarnya sambil menunjuk ke arah peserta.
Pertama, jaga persatuan. “Kita semua sesama anak bangsa. Beda pilihan boleh, tapi jangan saling cakar. Utamakan tolong-menolong.”
Kedua, kuasai ilmu dan teknologi. “Dunia sudah masuk era AI, big data, ekonomi biru, ekonomi hijau. Kalau kalian tidak melek teknologi, kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri.”
Ketiga, jaga iman dan takwa. “Sepintar apa pun, secanggih apa pun, kalau moralnya rapuh, bangsa ini bisa hancur. Iptek tanpa imtak itu berbahaya.”
Dalam kesempatan itu, Rokhmin juga mengulas besarnya potensi sumber daya alam Indonesia, mulai dari cadangan nikel, tembaga, batu bara, emas, timah, potensi perikanan hingga hutan tropis. Menurutnya, kekayaan tersebut seharusnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Logikanya, dengan SDA sebanyak itu, tidak boleh ada rakyat miskin. Tidak boleh ada anak putus sekolah karena biaya. Tidak boleh ada nelayan dan petani yang hidup pas-pasan,” tegasnya dengan nada tinggi.
Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan berupa kemiskinan, pengangguran terbuka, dan ketimpangan ekonomi antarwilayah.
“Ini jadi pekerjaan rumah kita bersama. Tugas kalian sebagai intelektual muda adalah mencari jawabannya. Bukan hanya protes, tapi kasih solusi berbasis data dan sains,” tantangnya.
Sementara itu, Sekretaris STMIK IKMI Cirebon, Rudi Kurniawan, M.T., yang mewakili Ketua STMIK IKMI Cirebon Prof. Dr. Dadang Sudrajat, S.Si., M.Kom., menyambut baik penyelenggaraan sosialisasi tersebut. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak talenta digital, tetapi juga membangun karakter kebangsaan mahasiswa.
“Mahasiswa kami tidak hanya belajar coding dan AI. Mereka harus paham bahwa teknologi yang mereka ciptakan harus untuk memperkuat NKRI, bukan memecah belah,” kata Rudi.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STMIK IKMI Cirebon, Fatihanursari Dikananda, S.Tr.I.Kom., M.Kom., menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan di era digital.
“Di era media sosial, anak muda gampang sekali terprovokasi. 4 Pilar ini rem-nya,” ujarnya.
Menutup sosialisasi yang berlangsung hampir dua jam, Rokhmin mengajak mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi generasi yang produktif.
“Jangan jadi generasi rebahan yang hobinya scroll medsos tanpa karya. Bangsa ini butuh kalian yang berpikir, bekerja, dan berkarya nyata.”
Ia optimistis cita-cita Indonesia menjadi negara maju dapat diwujudkan apabila generasi muda mampu mengamalkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Genggam Pancasila di dada, kuasai teknologi di kepala, kerja nyata dengan kedua tangan. Itu rumus Indonesia Emas,” pungkasnya.

















































































