Ikuti Kami

Soal Ibu Kota Baru, Mega Tegaskan Tak Sedang Kritik Jokowi

Megawati mendorong agar langkah ke depan lebih positif.

Soal Ibu Kota Baru, Mega Tegaskan Tak Sedang Kritik Jokowi
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Seoul, Gesuri.id - Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri sempat memberikan pandangannya terkait pemindahan ibu kota negara ke Provinsi Kalimantan Timur. Dia menegaskan pernyataannya itu jangan lantas diartikan sebagai kritikan pedas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Megawati juga sama sekali bukan mengatakan tak setuju dengan rencana perpindahan ibu kota negara.

"Kritik itu boleh, tapi yang membangun. Saya tidak ada kritik. Saya, atau kata-kata saya, (tidak ada mengatakan-red) oh jangan atau tidak setuju. Beda loh. Saya mengatakan (pemindahan ibukota-red) itu hal yang positif. Kalau kita lihat Jakarta (sudah-red) terlalu crowded," tegas Megawati di Seoul, Korea Selatan, Rabu (28/8) malam.

Baca: Dukung Ibu Kota Pindah, Megawati Ingatkan Masalah Lingkungan

Ketua Umum PDI Perjuangan ini mengatakan dirinya hanya mendorong agar langkah ke depan lebih positif. Dia lantas menyoroti Jakarta yang menurutnya saat ini memiliki banyak masalah, salah satunya soal kemacetan.

Megawati mengatakan saat dirinya menjabat sebagai presiden, dia pernah meminta dilakukan studi soal jumlah kendaraan di Jakarta tahun 2025 dan jumlah panjang jalan yang harus dibangun.

"Ternyata tidak akan bisa menyusul antara jumlah kendaraan dengan panjang jalan," kata Megawati.

Saat itu, kata Megawati, sudah banyak ide-ide yang bermunculan. Mulai dari mobil berbahan bakar bensin digantikan berbahan bakar gas. Bahkan kini muncul kendaraan dengan bahan bakar listrik.

"Menurut saya, itu harus segera diputuskan lalu pelaksanaannya bagaimana. Harus bisa mengimbangi, polusi (di Jakarta, red) yang katanya, kan malu ya, katanya udah paling tinggi lho," ungkap Megawati.

Selain kemacetan, masalah lainnyan yang dihadapi Jakarta adalah banjir. Intinya yang putri Bung Karno itu hendak dorong adalah agar ke depan semuanya dibuat berdasar tata ruang yang konsekuen dan komit dilaksanakan.

Dicontohkannya wilayah Karawang dan Bekasi yang oleh pihaknya selalu diminta untuk tak dijadikan wilayah perkotaan, namun tetap menjadi sentra padi. Sejak zaman Belanda, kata Megawati, daerah itu tak berani disentuh karena bisa berakibat politis.

"Hal-hal ini yang saya maksud sebagai pendalaman," pungkas Megawati.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo resmi mengumumkan ibu kota baru berada di Kalimantan Timur. Dia mengatakan keputusan itu diambil setelah melalui kajian-kajian intensif selama tiga tahun terakhir ini.

Hal itu disampaikan Jokowi dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8).

"Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur," kata Jokowi.

Sebelumnya, Megawati mendukung keputusan pemerintahan Jokowi yang akan memindahkan ibu kota negara. Namun, dia memberi masukan dan pandangan jangka panjang terhadap keputusan tersebut.

Salah satunya soal permasalahan lingkungan. Megawati menegaskan semua hal yang berkaitan dengan perpindahan ibu kota harus sangat diperhatikan, terutama Analisa Dampak dan Lingkungan (Amdal) yang menurutnya harus benar-benar dilakukan.

Sebagai pecinta dan penggiat lingkungan, Megawati mengingatkan saat ini saat ada rencana reklamasi air laut, tak pernah didalami biota laut apa saja di dalam wilayah air yang hendak ditimbun. Akhirnya, manggrove rusak yang pada ujungnya mematikan biota laut.

Baca: Bicara Perdamaian Dunia, Megawati: Jerman saja Bisa Bersatu

Hal tersebut menurutnya akan membuat pembangunan menjadi tidak artinya, sebab merusak lingkungan.

"Katanya kita go green. Mau konsekuen atau tidak? Kan itu saja. Antara lain sebetulnya go green lho. Masa kita mau bangun high rise building (di Kaltim, red)? Belum lagi connect dengan masalah ring of fire kita. Jadi itu harus melihat dengan baik melalui BMKG. Saya mengerti Kalimantan itu salah satu pulau yang tua. Sehingga tidak ada gunung. Tapi kan sulitnya tanahnya gambut. Begitulah kurang lebih hitung menghitungnya," katanya di Seoul, Korea Selatan, Selasa (27/8).

Quote