Ikuti Kami

Walkot Damar Dorong Kepedulian Menjadi Budaya Kehidupan Sehari-Hari

Damar menyinggung fenomena sosial yang terjadi belakangan ini, salah satunya terkait laporan pencurian penutup gorong-gorong

Walkot Damar Dorong Kepedulian Menjadi Budaya Kehidupan Sehari-Hari
Walikota Magelang Damar Prasetyono membuka Dialog Budaya Tahun 2026 bertajuk “Pemajuan Kebudayaan”, di Aula Cendikia Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Jumat (30/1/2026) - Foto: Prokompim Kota Magelang

Magelang, Gesuri.id - Wali Kota Magelang yang juga politisi PDI Perjuangan Damar Prasetyoni mendorong agar kepedulian menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari, sebab semakin memudar di kalangan masyarakat.

Hal itu disampaikan Damar, saat membuka kegiatan Dialog Budaya Tahun 2026 bertajuk “Pemajuan Kebudayaan”, di Aula Cendikia Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Selasa (3/2).

Damar menyinggung fenomena sosial yang terjadi belakangan ini, salah satunya terkait laporan pencurian penutup gorong-gorong di sejumlah titik di Kota Magelang. Menurutnya, tindakan pencurian tersebut bukanlah cerminan budaya masyarakat Kota Magelang.

"Saya yakin itu bukan budaya orang Kota Magelang. Kita butuh menumbuhkan budaya baru, yaitu budaya peduli. Saling mengingatkan, bahwa mencuri itu tidak baik dan membahayakan orang lain. Inilah esensi kebudayaan yang sebenarnya, yakni perilaku dan etika hidup bermasyarakat," tegas Wali Kota.

Pihaknya terus mengupayakan penguatan ekosistem kebudayaan, sebagai identitas Kota Magelang. Termasuk, adanya ruang diskusi dua arah antara pemerintah dan pelaku budaya. Menurutnya, dialog bukan sekedar seremonial, melainkan sarana untuk mengisi “ruang jiwa dan pikiran”, guna melahirkan referensi baru dalam membangun kota.

”Dialog sangat penting untuk menyamakan persepsi dan membangun kepercayaan. Dalam konteks kebudayaan, peran pemerintah bukan untuk mengendalikan, melainkan membina dan memastikan ekosistem kebudayaan tetap lestari, berkembang, serta memberi makna nyata bagi masyarakat,” ujar Damar.

Kepala Disdikbud Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho menyatakan, forum itu merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menururnya, Disdikbud bukan lagi sekadar “penjaga museum”, melainkan fasilitator bagi empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.

”Kota Magelang memang kecil secara geografis, tapi secara historis dan budaya, kita adalah raksasa,” ungkapnya.

Dikatakan, tantangan sekarang adalah bagaimana 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Kota Magelang, mulai dari seni pertunjukan hingga naskah kuno, bisa menjadi motor ekonomi kreatif tanpa menghilangkan kesakralannya.

Pihaknya berharap masukan dari para narasumber dan sejarawan, dapat menjadi landasan kebijakan strategis bagi Pemkot Magelang ke depan.

“Kami ingin mewujudkan ekosistem yang harmonis dan humanis, menjadikan Kota Magelang sebagai rumah bersama bagi para seniman dan budayawan,” imbuhnya.

Sebagai informasi, kegiatan dialog itu menghadirkan narasumber ahli di bidang kebudayaan Maria Frimarini Nila W dan Khaji Habib, Wali Kota Damar, dan Wakil Wali Kota Sri Harso. Acara tersebut diikuti oleh puluhan pegiat seni, sejarawan, dan tokoh masyarakat Kota Magelang.

Quote