Ikuti Kami

Wibowo Prasetyo Tegaskan Ibu Adalah Benteng Utama Anak Hadapi Ganasnya Algoritma dan Cyberbullying

Derasnya arus informasi dan jeratan algoritma media sosial kini menjadi tantangan baru dalam membangun ketahanan keluarga.

Wibowo Prasetyo Tegaskan Ibu Adalah Benteng Utama Anak Hadapi Ganasnya Algoritma dan Cyberbullying
Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo.

​Magelang, Gesuri.id – Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo, mengingatkan para ibu di perdesaan untuk memperkuat perannya sebagai pendidik utama anak di era digital. 

Menurutnya, derasnya arus informasi dan jeratan algoritma media sosial kini menjadi tantangan baru dalam membangun ketahanan keluarga.

​Hal tersebut ditegaskan Wibowo dalam Diskusi PKK Desa Dukun, Kabupaten Magelang, Rabu (3/6/2026), yang mengusung tema “Penguatan Peran Perempuan dalam Pembangunan Desa yang Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​"Dulu kita bicara soal sandang, pangan, dan papan. Sekarang hampir semua aktivitas kehidupan dipandu oleh handphone. Apa yang kita lihat dan keputusan yang kita ambil sering kali dipengaruhi oleh algoritma," ujar legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

​Wibowo menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja secara senyap dengan mengenali kebiasaan dan minat penggunanya. Jika tidak disikapi dengan kesadaran digital yang baik, masyarakat—terutama anak-anak—akan sangat rentan terpapar dampak negatif, salah satunya adalah perundungan siber (cyberbullying).

​Oleh karena itu, ia meminta kaum ibu tidak gagap teknologi dan aktif mengawasi aktivitas digital anak.

​"Dunia digital memberi banyak kemudahan, tetapi juga membuka ruang terjadinya bullying. Di sinilah peran ibu sangat penting untuk mendampingi anak, mengawasi penggunaan media sosial, sekaligus membangun komunikasi yang sehat," lanjutnya.

Baca: Ganjar Ajak Kader PDI Perjuangan Perkuat Demokrasi

​Selain isu dunia maya, Wibowo juga menyoroti masih tingginya angka pernikahan usia anak di Kabupaten Magelang. Ia menegaskan, perang melawan pernikahan dini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
​Ibu memiliki posisi strategis untuk memutus rantai pernikahan dini melalui edukasi dari dalam rumah. Namun, agar perempuan bisa mendidik dengan optimal, mereka juga harus berdaya secara ekonomi.

​Untuk mendukung hal itu, Wibowo memperkenalkan program pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pendekatan inkubasi usaha yang didukung oleh pemerintah.

​"Yang dibutuhkan bukan sekadar modal. Perempuan perlu didampingi mulai dari merintis usaha, mengembangkan produk, mengelola keuangan, hingga strategi pemasaran. Dengan begitu, usaha bisa bertahan," urai Wibowo.

Quote