Ikuti Kami

Mahfud Kritik Food Estate saat Bicara Visi-Misi soal Pertanian di Unand

Mahfud lalu menyatakan sepakat dengan Hery soal program food estate gagal.

Mahfud Kritik Food Estate saat Bicara Visi-Misi soal Pertanian di Unand
Cawapres nomor urut 3 Mahfud Md hadiri bedah visi misi dan adu gagasan cawapres 2024 di Universitas Andalas (Unand), Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Senin (18/12/2023). (Rizky Adha/detikcom)

Jakarta, Gesuri.id - Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 3, Mahfud Md, menghadiri bedah visi-misi, dan adu gagasan cawapres 2024 di Universitas Andalas (Unand), Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Ada tiga panelis yang bertanya.

Salah satu panelisnya yaitu Hery Bachrizal Tanjung, selalu dosen Fakultas Pertanian Unand. Dia menanyakan terkait pembangunan pertanian seperti apa yang akan dikembangkan Mahfud nantinya jika berhasil bersama Ganjar Pranowo memenangkan Pilpres 2024.

"Pembangunan pertanian seperti apa yang 03 ingin kembangkan? Food estate kah, yang telah gagal 5 kali di Indonesia? Sejak saya kuliah itu sudah ada di Palembang. Atau yang lain? Mode swasembada, mode Pak Harto, atau seperti apa?" tanya Hery, Senin (18/12/2023).

Mahfud kemudian menjelaskan istilah-istilah dalam pertanian, yaitu kedaulatan, kemandirian, dan keamanan pangan. Menurutnya, kedaulatan pangan berarti kapanpun negara butuh pangan harus tersedia.

"Entah dari mana pokoknya harus ada Pak, impor-ekspor. Tapi kalau kemandirian pangan, kapanpun negara harus ada, tetapi harus diproduksi di dalam negeri," jelas Mahfud.

"Kemudian ada keamanan pangan, itu bisa aman dari perubahan situasi, perubahan apapun, ini tetap aman tersedia untuk pangan. Kira-kira begitu pengertian yang paling populer tentang pangan ini," sambungnya.

Mahfud lalu menyatakan sepakat dengan Hery soal program food estate gagal. Dia juga memberi alasan dari pernyataannya itu.

"Apa yang mau kita lakukan? Food Estate yang sekarang banyak digembar-gemborkan, saya kira semua orang punya pesan itu gagal, Pak. Dan saya kira iya. Kenapa? karena kita menyediakan lahan yang besar, tidak dipikirkan bahwa lahan yang besar dengan modal yang besar itu harus ada petani. Sementara, lahan yang disediakan itu ndak ada orangnya," terang Mahfud.

Dia menjelaskan bahwa pangan bukan hanya beras. Masyarakat, lanjutnya, harus kembali ke pangan tradisional seperti jagung, sagu, sorgum, dan sebagainya.

"Itu nanti Kita kembangkan, karena itu sebenarnya makanan tradisional kita. Kita itu suka makan nasi, makan nasi gitu kan sesudah dijajah orang, baru beras dan seterusnya. Beras lalu seakan-akan orang yang paling hebat, yang paling mulia itu kalo bisa makan beras," jelasnya.

Quote