Ikuti Kami

Bung Karno Bangga Terhadap Kebiasaan Masyarakat Indonesia Menggunakan Guling

Kamilah satu-satunya bangsa di dunia yang mempunyai sejenis bantal yang digunakan untuk dirangkul

Bung Karno Bangga Terhadap Kebiasaan Masyarakat Indonesia Menggunakan Guling
Ketua Umum PDI Perjuangan Prof. Hj. Megawati Soekarnoputri berfoto memegang guling milik Presiden Pertama RI yang juga ayahnya, Soekarno atau Bung Karno di rumah pengasingan Bung Karno, Ende, Nusa Tenggara Timur, Jumat (31/5/2024) sore - Foto: Dokumentasi PDI Perjuangan

Jakarta, Gesuri.id - Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno alias Bung Karno ternyata memberikan perhatian khusus kepada guling yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kebiasaan tidur masyarakat Indonesia. 

Hampir di setiap rumah, benda berbentuk silinder yang biasa dipeluk saat beristirahat itu selalu tersedia. Namun, di balik fungsinya yang sederhana, guling menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kolonial hingga era Bung Karno.

Dalam buku karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams, berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang terbit pada 1965, Soekarno pernah menyampaikan kebanggaannya terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia menggunakan guling.

"Kamilah satu-satunya bangsa di dunia yang mempunyai sejenis bantal yang digunakan untuk dirangkul," ujar Soekarno sebagaimana dikutip Cindy Adams.

Pernyataan tersebut menunjukkan guling bukan sekadar pelengkap tempat tidur, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa guling mulai dikenal di Indonesia pada masa kolonial. Saat itu, benda tersebut dikenal dengan sebutan dutch wife atau "istri Belanda". Sebutan itu muncul karena banyak orang Belanda yang datang ke Hindia Belanda tanpa membawa keluarga mereka. Dalam berbagai literatur populer disebutkan bahwa guling kemudian digunakan sebagai teman tidur yang memberikan rasa nyaman ketika beristirahat di wilayah beriklim tropis.

Meski dikenal dengan istilah dutch wife, sejumlah sumber juga menyebutkan bahwa guling konon mulai diperkenalkan pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Dalam bahasa Inggris, guling dikenal sebagai bolster

Pada periode tersebut, masyarakat Eropa yang tinggal di Nusantara disebut mulai menggunakan guling sebagai penyesuaian terhadap iklim tropis. Kebiasaan itu kemudian berkembang dan dikenal luas di kalangan masyarakat Hindia Belanda.

Beberapa kajian sejarah juga mengaitkan perkembangan guling dengan kebudayaan Indische pada abad ke-18, yakni hasil percampuran budaya Eropa, Indonesia, dan Tionghoa yang berkembang di Nusantara pada masa kolonial.

Quote