Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan bahwa bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum meningkatkan kesalehan pribadi melalui ibadah ritual, tetapi juga menjadi kesempatan memperkuat kesalehan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kesalehan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah), tetapi juga mencakup hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas) serta dengan alam (hablum minal ‘alam),” ujarnya dalam tausiyah, dikutip Selasa (17/3).
Rektor Universitas UMMI Bogor itu menjelaskan bahwa kesalehan dalam Islam bersifat holistik. Ia menilai masih banyak umat Islam yang memahami kesalehan secara sempit, yakni sebatas menjalankan ibadah ritual kepada Allah semata.
Menurutnya, seseorang yang rajin menjalankan ibadah tetapi memiliki relasi sosial yang buruk atau bahkan merusak lingkungan, patut dipertanyakan tingkat kesalehannya.
“Hal tersebut sejalan dengan misi Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia,” ucapnya.
Dewan Pembina Baitul Muslimin Indonesia ini juga menekankan bahwa bentuk kesalehan sosial yang paling relevan dengan kondisi bangsa saat ini adalah upaya menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Di tengah meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan bertambahnya jumlah pengangguran, ia menilai kontribusi nyata umat Islam harus diwujudkan melalui pemberdayaan ekonomi yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, sikap berbagi kepada sesama, terutama di tengah masih tingginya angka kemiskinan, juga merupakan bentuk konkret dari kesalehan sosial yang perlu terus diperkuat.
Dalam konteks Ramadhan, Prof. Rokhmin mengingatkan pentingnya meningkatkan iman dan ketakwaan melalui ibadah yang khusyuk seperti shalat, puasa, serta menunaikan zakat.
"Pentingnya membaca serta memahami Al-Qur’an dan hadis, tidak sekadar membacanya, tetapi juga memaknai kandungannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan," tegasnya.
Ia menekankan bahwa membaca Al-Qur’an dan hadis tidak cukup dilakukan secara ritual semata, tetapi harus disertai dengan pemahaman mendalam agar kandungannya dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu menutup pesannya dengan mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum transformasi diri dan sosial.
“Ramadhan harus menjadi bulan yang melahirkan pribadi yang lebih bertakwa, sekaligus masyarakat yang lebih peduli, berbagi, dan berkontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya.

















































































