Jakarta, Gesuri.id - Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno, Romy Soekarno mengingatkan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen-Z), bahwa lanskap geopolitik abad ke-21 telah mengalami pergeseran mendasar melampaui batas perebutan wilayah teritorial dan kekuatan militer konvensional.
Mantan Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto membeberkan skenario masa depan yang akan mempengaruhi Generasi Z di masa depan.
Kedua tokoh itu menyampaikannua saat memberikan materi dalam agenda 'Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen-Z' bertajuk "Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia" di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2026).
"Dunia sedang berubah. Geopolitik hari ini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, kekuatan militer, atau sumber energi. Persaingan kekuatan dunia telah memasuki dua ruang baru, yaitu ruang digital dan ruang antariksa. Inilah geopolitik abad
ke-21," ujar Rommy di hadapan puluhan mahasiswa dan civitas akademika UBK.

Terkait aspek pertama, yakni kedaulatan digital, Romy menyoroti kepemilikan data, kecerdasan buatan (artificial intelligence), semikonduktor, dan infrastruktur komputasi yang kini bertransformasi menjadi sumber kekuatan utama suatu negara.
Ia melontarkan peringatan keras agar bangsa Indonesia tidak kehilangan kendali atas aset teknologi dan informasi domestik di tengah dominasi platform global.
"Pertanyaannya sederhana: Siapa yang menguasai data kita? Siapa yang mengendalikan teknologi kita? Dan siapa yang menguasai infrastruktur digital Indonesia? Jangan sampai Indonesia merdeka secara geografis, tapi bertakluk secara digital," tegasnya.
Untuk itu, Romy mendesak penguatan kapasitas teknologi nasional, mulai dari ketahanan keamanan siber, kemandirian penguasaan mahadata, hingga riset terpadu di bidang kecerdasan buatan.
Adapun pada pilar kedua, ia menyoroti geopolitik antariksa seiring melesatnya ribuan satelit orbit rendah (low-orbit satellites) yang mengitari wilayah udara nusantara.
Meski membawa manfaat besar bagi sektor telekomunikasi dan pertahanan, kehadiran konstelasi satelit asing dinilainya membutuhkan regulasi proteksi yang ketat demi menjaga kerahasiaan komunikasi dan keamanan nasional.
"Dalam hukum internasional, ruang antariksa tidak dapat diklaim sebagai wilayah kedaulatan negara. Namun Indonesia tetap harus melindungi kepentingan nasionalnya melalui teknologi, regulasi, dan kemampuan antariksanya sendiri," urai Romy.
Menjawab dua tantangan tersebut, Romy menekankan krusialnya peran Gen-Z agar tidak sekadar memosisikan diri sebagai konsumen pasif atau target pasar korporasi multinasional semata.
"Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi dunia. Indonesia harus menjadi pencipta, harus menjadi pengembang teknologi. Kita membutuhkan generasi muda yang menguasai AI, ilmu politik, hukum internasional, teknologi satelit,
dan ekonomi digital," serunya.
Ia pun mengajak sivitas akademika UBK untuk mengaktualisasikan ajaran Trisakti Bung Karno—berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan—ke dalam ranah teknologi modern guna melahirkan figur-figur "Soekarno muda".
"Kemerdekaan sejati bukan hanya kemampuan menjaga wilayah, tapi juga kemampuan menentukan masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi saya, jangan sampai Indonesia berdaulat di bumi, tapi kehilangan kendali masa depannya di ruang digital dan antariksa," pungkas Romy.
Menyambung peringatan Romy Soekarno terkait pentingnya kedaulatan digital dan kesiapan menghadapi geopolitik masa depan, Gubernur Lemhannas RI periode 2022–2023, Andi Widjajanto, membedah secara konkret ancaman disrupsi teknologi melalui fenomena komputasi kuantum atau Quantum Day (Q-Day) serta teori ketidakpastian "angsa hitam" (black swan).
Andi memaparkan, persaingan ekonomi dan geopolitik global hari ini digerakkan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Namun, dunia segera berhadapan dengan era Q-Day yang diprediksi meletus antara tahun 2031 hingga 2037, di mana komputasi kuantum berkecepatan tinggi mampu meretas seluruh kode keamanan konvensional di dunia.
"Q-Day, kuantum, adalah kemampuan komputasi superduper cepat, sehingga semua kode yang ada sekarang—termasuk password individual di email, WhatsApp, hingga GoPay teman-teman—bisa dibobol. Saat itu, every code is breakable," ujar Andi.
Mantan Sekretaris Kabinet itu menerangkan, saat Q-Day terjadi, seluruh perangkat keras, motherboard, hingga teknologi enkripsi yang ada saat ini tidak lagi relevan dan wajib beralih ke teknologi kuantum optik.
Ia mencontohkan bagaimana negara tetangga seperti Singapura telah menginvestasikan 50 juta dolar AS per tahun untuk mendanai laboratorium kuantum di National University of Singapore (NUS) yang dipimpin oleh ilmuwan asal Indonesia.
Di hadapan mahasiswa UBK, Andi mengaitkan lompatan teknologi tersebut dengan posisi Gen-Z yang disebutnya lahir di tengah situasi dunia yang kerap diguncang krisis tak terduga (angsa hitam)—mulai dari serangan WTC 2001, krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19 2020, hingga ancaman perang energi saat ini.
"Teman-teman Gen-Z lahir ketika angsa-angsa hitam ini terbang, lahir di masa susah. Oleh karena itu, pembelajaran dan penguasaan iptek harus dilakukan jauh lebih keras ke depan," tutur Andi.
Lebih jauh, Andi berpesan agar mahasiswa UBK tidak sekadar menguasai teknologi digital seperti AI, melainkan berani mengambil tanggung jawab historis dalam menuntaskan agenda demokrasi kebangsaan.
Ia merefleksikan kegagalan generasi sebelumnya (Generasi X) yang mampu menginisiasi reformasi 1998 namun belum berhasil menuntaskan konsolidasi demokrasi secara paripurna.
"Kami generasi X berhasil menginisiasi reformasi, tetapi kami gagal menuntaskannya; tiba-tiba reformasinya berbelok. Itu utang generasi saya. Saya berharap penuntasan konsolidasi demokrasi ini bukan kami yang melakukannya, tapi kalian, generasi Z. Kampus UBK dengan memakai nama Bung Karno harus menjadi garda terdepan," pungkas Andi.
Kegiatan pelatihan ini turut dihadiri oleh dosen UBK yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan sekaligus inisiator acara, Hasto Kristiyanto.
Hadir pula sejumlah pakar sebagai narasumber, di antaranya Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana, Dosen dan Peneliti Universitas Pertahanan RI Margaretha Hanita, serta perwakilan mahasiswa UBK sebagai penanggap, Kurnia Aryasatya dan Chrisostomos Inuhan.

















































































