Ikuti Kami

UBK Gelar Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen Z, Romy Soekarno Apresiasi Setinggi-Tingginya

Romy: Bagi saya, dunia sedang berubah. Geopolitik hari ini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, kekuatan militer, atau sumber energi.

UBK Gelar Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen Z, Romy Soekarno Apresiasi Setinggi-Tingginya
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Romy Soekarno, di Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen Z di Universitas Bung Karno (UBK), Rabu (4/11/2026). (istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Romy Soekarno, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Universitas Bung Karno (UBK) atas penyelenggaraan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen Z di kampus setempat.

"Saya mengapresiasi Universitas Bung Karno atas kegiatan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen Z. Bagi saya, dunia sedang berubah. Geopolitik hari ini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, kekuatan militer, atau sumber energi," ujar Romy Soekarno saat membuka Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen Z di Universitas Bung Karno (UBK), Rabu (4/11/2026).

Ia menjelaskan persaingan kekuatan dunia saat ini telah meluas hingga merambah ke ruang digital dan ruang antariksa. Dinamika ini, menurutnya, menjadi wajah baru dari geopolitik di era modern.

Romy memaparkan tiga fokus utama yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama adalah mengenai kedaulatan digital, di mana data, kecerdasan buatan (artificial intelligence), semikonduktor, hingga infrastruktur digital telah bertransformasi menjadi pilar kekuatan baru suatu negara.

"Pertanyaannya sederhana: siapa yang menguasai data kita? Siapa yang mengendalikan teknologi kita? Dan siapa yang menguasai infrastruktur digital Indonesia? Jangan sampai Indonesia berdaulat secara geografis, tetapi bergantung secara digital terhadap dunia. Kita harus membangun kapasitas teknologi masyarakat, keamanan siber, penguasaan data, serta kecerdasan buatan," tegasnya.

Poin kedua yang disoroti nya adalah geopolitik antariksa. Keberadaan ribuan satelit di orbit bumi saat ini memberikan manfaat besar bagi komunikasi, ekonomi, pendidikan, hingga pertahanan. Namun, hal itu juga membawa tantangan besar terkait regulasi dan keamanan data nasional.

"Bagaimana Indonesia mengatur layanan satelit asing? Bagaimana keamanan komunikasi dan data nasional dilindungi? Dalam hukum internasional, ruang antariksa memang tidak dapat diklaim sebagai wilayah kedaulatan negara. Namun, Indonesia tetap harus melindungi kepentingan nasional melalui teknologi, regulasi, dan kemampuan antariksa mandiri," tambahnya.

Selanjutnya, poin ketiga menekankan pada peran krusial generasi muda. Romy menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi target pasar teknologi dunia, melainkan harus bertransformasi menjadi pencipta dan penentu arah perkembangan teknologi.

Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan generasi muda yang tidak hanya menguasai ilmu politik dan hukum internasional, tetapi juga ahli di bidang teknologi satelit serta ekonomi digital. Di sinilah UBK diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam melahirkan lulusan berkarakter dan berpikir kritis.

"Bung Karno mengajarkan Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Hari ini, semangat Trisakti harus kita lanjutkan dalam dunia digital dan antariksa. Sebab, kemerdekaan sejati bukan hanya kemampuan menjaga wilayah darat, laut, dan udara, tetapi juga kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi," jelas Romy.

Mengakhiri pemaparannya, ia berpesan agar seluruh mahasiswa tidak cepat berpuas diri hanya sebagai pengguna teknologi semata.

"Jangan sampai Indonesia berdaulat di bumi, tetapi kehilangan kendali atas masa depannya di ruang digital dan antariksa. Kepada seluruh mahasiswa, jadilah generasi pencipta, bukan sekadar pengguna. Mari kita bangun Indonesia yang kuat, mandiri, dan bersaing di dunia demi Indonesia Raya," pungkasnya.

Quote