Jakarta, Gesuri.id - Sejarah sesungguhnya tidak dibentuk oleh banyak orang, melainkan oleh segelintir manusia yang mampu melihat lebih jauh daripada zamannya. Mereka berbicara kepada masa depan ketika orang-orang di sekelilingnya masih sibuk mempertahankan masa kini. Soekarno adalah salah satu di antaranya. Ia bukan hanya presiden pertama Republik Indonesia, melainkan seorang arsitek gagasan yang berusaha membangun sebuah peradaban baru di atas reruntuhan kolonialisme. Keunikannya terletak pada kenyataan bahwa ia memimpin sebuah negara sekaligus memproduksi sistem pemikiran yang menopang negara itu. Tidak banyak pemimpin dunia yang meninggalkan jejak intelektual seluas dirinya.

Pancasila, Marhaenisme, Trisakti, Berdikari, Manipol-USDEK, Nation and Character Building, hingga anti-imperialisme bukanlah serpihan-serpihan ide yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bangunan pemikiran yang diarahkan pada satu cita-cita besar: membebaskan manusia Indonesia dari segala bentuk penjajahan, baik politik, ekonomi, maupun cara berpikir. Di tangan Soekarno, kemerdekaan tidak pernah dimaknai sekadar penggantian bendera atau pergantian elite kekuasaan. Kemerdekaan adalah proses panjang membangun manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri dan bangsa yang bermartabat di hadapan dunia.
Yang menjadikan Soekarno berbeda dari banyak pemimpin Dunia Ketiga pada masanya adalah keberaniannya mendobrak kemapanan pemikiran dan hegemoni Barat. Ketika sebagian besar negara baru merdeka dipaksa memilih antara kapitalisme Amerika atau komunisme Soviet, Soekarno justru menawarkan jalan yang lahir dari pengalaman historis bangsanya sendiri. Marhaenisme bukanlah salinan Marxisme, sebagaimana Pancasila bukan tiruan liberalisme. Bahkan Pancasila. menginspirasi lahirnya konsep Wilayatul Faqih, Iran. Ia menyusun sintesis yang berakar pada budaya gotong royong Nusantara, diperkaya kritik sosial Barat, lalu diberi energi moral oleh nilai-nilai Islam. Dari perpaduan itulah lahir sebuah bangunan pemikiran yang sulit dimasukkan ke dalam kotak-kotak ideologi yang lazim.
Tidak mengherankan apabila Soekarno kemudian mampu memukau dunia melalui Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Di Bandung, untuk pertama kalinya bangsa-bangsa yang lama menjadi objek sejarah tampil sebagai subjek sejarah. Dunia tidak lagi hanya berbicara dengan suara Washington, Moskow, London, atau Paris, tetapi juga dengan suara Jakarta, New Delhi, Kairo, dan Accra. Beberapa tahun kemudian, melalui pidato To Build the World Anew di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Soekarno mengajukan kritik yang tajam terhadap ketimpangan tatanan internasional. Jauh sebelum wacana dekolonisasi pengetahuan, Global South, dan reformasi tata kelola global menjadi perbincangan luas, Soekarno telah menyerukan perlunya dunia yang dibangun di atas prinsip kesetaraan bangsa-bangsa, bukan dominasi segelintir kekuatan besar.
Namun, sebagaimana lazimnya seorang pemimpin visioner, Soekarno justru lebih mudah dipahami oleh generasi setelahnya daripada oleh orang-orang yang hidup sezamannya. Sejarah memperlihatkan pola yang berulang: gagasan yang melampaui horizon zamannya sering kali ditolak, dicurigai, bahkan diperangi. Dalam pengertian itu, pengalaman Soekarno mengingatkan kita pada Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin yang keluasan ilmu dan pandangan politiknya kerap berbenturan dengan keterbatasan imajinasi masyarakat pada masanya. Bukan berarti keduanya identik, tetapi keduanya memperlihatkan ironi yang sama: semakin jauh seseorang melihat ke depan, semakin sulit ia dipahami oleh orang-orang yang masih terikat pada cara pandang lama.
Kepribadian intelektual Soekarno sendiri juga tidak mudah dijelaskan melalui kategori-kategori yang sederhana. Tipologi Clifford Geertz tentang Islam abangan, santri, dan priyayi memberikan sumbangan penting bagi studi masyarakat Jawa, tetapi tidak sepenuhnya mampu menangkap kompleksitas Soekarno. Dalam dirinya bertemu tradisi Islam yang memberi orientasi moral, warisan priyayi yang membentuk kemampuan kepemimpinan dan retorika, serta keberpihakan kepada rakyat kecil yang menjadi inti Marhaenisme. Ia justru melampaui batas-batas kategorisasi tersebut dan menunjukkan bahwa identitas politik Indonesia lahir dari perjumpaan berbagai tradisi, bukan dari pemisahan yang kaku.
Karena itu, membaca Soekarno seharusnya tidak berhenti pada perdebatan mengenai keberhasilan atau kegagalan kebijakan politiknya. Yang jauh lebih penting adalah memahami keberaniannya membayangkan Indonesia sebagai sebuah proyek peradaban. Seorang pemimpin mungkin dapat memenangkan kekuasaan, tetapi hanya seorang pemikir yang mampu meninggalkan horizon bagi masa depan. Dan dalam pengertian itulah, Soekarno adalah pemimpin yang benar-benar mendahului zamannya.

















































































