Ikuti Kami

Jalan Sesatnya Para Kaum Teroris

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA, Ketua Umum PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi).

Jalan Sesatnya Para Kaum Teroris
Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA, Ketua Umum PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi).

Jakarta, Gesuri.id - Dalam dua dekade terakhir, di beberapa bagian dunia terjadi tindakan yang meresahkan, yakni serangan teroris. Serangan ini kadang lebih meresahkan ketimbang perang sesungguhnya, sebab serangan teroris terjadi dalam suasana damai dan berlangsung seketika, serta tidak bisa diprediksi kejadiannya.

Sebahagian besar teroris itu selalu dikaitkan dengan agama, namun jika dilihat dari segi ajaran, tak satu pun agama yang mengajarkan kekerasan terhadap sesama manusia. Maka dari segi ajaran, sebenarnya teroris itu tidak berkaitan dengan agama apapun. 

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pada umumnya teroris itu adalah penganut agama, dan mengaku melakukan tindakannya karena merasa didorong oleh agamanya, dan juga karena bertujuan untuk memenuhi tuntutan dan tuntunan agama yang dipahaminya.

Agama yang paling sering dikaitkan dengan teroris ialah Islam, karena lebih banyak pelakunya yang diungkap ke publik adalah beragama Islam. Padahal perilaku teroris sebenarnya dapat saja dilakukan oleh mereka yang non Muslim.

Sejarah mencatat betapa Irlandia dilanda pertikaian, silih berganti serangan bom, dan dalam suasana perdamaiannya, muncul lagi milisi baru IRA yang menjadikan polisi anti teroris sebagai sasaran serangannya. Demikian juga, beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Amerika dan Eropa diserang oleh teroris membunuh sejumlah mahasiswa dan pelajar. 

Juga, yang tak dapat dilupakan ialah serangan terhadap jamaah masjid yang sedang beribadah di Selandia Baru, menewaskan 51 orang dn melukai 40 orang lainnya. 

Belum lagi kita sebut serangan brutal kesekian kalinya oleh Israel terhadap penduduk sipil bangsa Palestina. Namun sekali lagi, dunia lebih banyak mengekspos adanya teroris-teroris Muslim ketimbang lainnya.

Biarlah kita menerima hal itu sebagai fakta, dan sebagai bahan introspeksi untuk mengkaji apa penyebab sehingga seorang muslim rela menjadi teroris, merusak, membunuh orang lain bahkan membunuh dirinya sendiri? Bagi penulis, setidaknya ada tiga letak kesesatan yang mendorong seseorang menjadi teroris itu, seperti diuraikan berikut:

Pertama, kesesatan dalam memahami tujuan dasar agama Islam yang dianutnya. Mereka tidak mampu membedakan antara ajaran dasar dan ajaran yang tidak dasar. 

Kesesatan ini terjadi karena pelaku teroris itu biasanya memukul rata ajaran-ajaran Islam, tanpa memilah mana ajaran dasar yang berlaku secara universal dan mutlak dilakukan dan mana ajaran tidak dasar, yang sifatnya parsial, dan biasanya hanya dilakukan untuk keadaan tertentu.

Ajaran universal Islam bahkan ajaran semua agama, ialah kemaslahatan umat manusia secara umum. 

Kemaslahatan itu ditandai dengan adanya kedamaian, ketenteraman, kebersamaan, gotong royong dan saling melindungi. Ajaran kemaslahatan ini berlaku secara umum untuk kapan dan di mana saja, dan berlangsung secara tetap hingga waktu yang tidak terbatas.

Islam sangat mementingkan tegaknya ajaran dasar tersebut, dan jika pada suatu saat kedamaian masyarakat terganggu oleh serangan pihak tertentu, maka umat Islam dibolehkan berperang untuk membalas serangan tersebut. 

Ajaran yang membolehkan perang ini adalah bersifat kondisional, hanya untuk saat tertentu ketika umat Islam mengalami gangguan dari luar. Jika gangguan itu telah berhenti, maka perang pun harus dihentikan, lalu kembali ke ajaran dasar semula, yakni kedamaian.

Sementara itu, pelaku teroris justru menjadikan perang sebagai ajaran dasar, sehingga bagi mereka umat Islam wajib memerangi umat agama lain kapan dan di mana pun tanpa mengenal kapan berhenti. Mereka berpegang pada hadits riwayat Bukhariy yang berbunyi:

Artinya: “Dari Ibni Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah, dan mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, jika mereka menunaikan itu, maka mereka terlindungi dari ku darah dan harta mereka, kecuali yang menjadi hak agama Islam, dan hitungannya atas Allah”. (H.R.Bukhariy).

Kedua, yaitu kesesatan dalam menggunakan dan menempatkan posisi dalil-dalil syariat, sehingga kadang dalil umum yang sifatnya zanniy lebih diutamakan ketimbang dalil tertentu yang sifatnya qath’iy (pasti). 

Seperti penggunaan hadits tersebut di atas sebagai dalil pembenaran tindak kekerasan yang dilakukannya, betul-betul menunjukkan kesesatannya.

Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Q.S.Al-Baqarah (2): 190.

Lebih dari itu sangat mungkin hadits tersebut disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum tercapainya perjanjian damai Piagam Madinah, yang berhasil mendamaikan antara umat Islam dengan Yahudi, Nashrani dan agama-agama lain di sekitar Madinah. 

Sebab mustahil sekali Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk memerngi non Muslim yang telah berdamai berdasarkan Piagam Madinah yang beliau buat sendiri. Beliau adalah bersifat Shiddiq, jujur dan amanah, atau tidak berkhianat.

Quote