Jakarta, Gesuri.id - Dewasa ini dunia Kembali mencatat fenomena anomali besar, dimana sebuah kemajuan peradaban materi melaju teramat pesat, namun teramat disayangkan berfondasi pada moral yang justru rapuh. Kita hidup di era dimana kedaulatan bangsa bangsa sering kali tunduk pada kepentingan pasar global, dan ketegangan geopolitik Kembali menghidupkan aroma perang dingin yang akan mengancam perdamaian dunia-dunia.
Beranjak dari latar belakang tersebut, selaras dengan pernyataan publik seorang Megawati Soekarnoputri dalam acara Rakernas Partai PDI Perjuangan 10 januari 2026, seorang sosok pemimpin yang sangat ideoogis serta senantiasa mampu menawarkan Kompas peradaban bagi dunia yang gamang maupun perang.
Indonesia melalui pengalaman kolonialisme dan imprealisme, memiliki posisi epik untuk menyuarakan nilai sebuah bangsa negara dunia ketiga yang kerap dipinggirkan.
Megawati, sebagai anak kandung biologis dan ideologis Bung Karno yang lebih banyak dan Panjang dalam melewati ujian demokrasi, ujian konstitusi, baik dalam panggung nasional dan internasional, mampu merasakan dan melihat benang merah yang terputus antara cita-cita kemerdekaan dunia dengan realitas pragmatisme hari ini.
Beliau menyadari tanpa adanya konsistensi pada sebuah nilai kedaulatan dan kemanusiaan, dunia hanya akan kembali menjadi panggung bagi kekuatan besar untuk saling memangsa bak dijaman kolonial.
Lebih dari sekedar isu politik, krisis ekologi yang kian nyata menjadi latar belakang mendesak mengapa kepeloporan Megawati menjadi sangat relevan dan dibutuhkan oleh negara kita Indonesia dan negara dunia hari ini.
Politik Adalah Jalan Pengabdian dan Kedaulatan
Dunia hari ini tampak jelas bak hutan rimba yang penuh dengan syarat kepentingan yang terus mereduksi moral manusia, kecendrungan kekuatan besar merasa berhak untuk mendikte Nasib bangsa lain.
Megawati sangat prihatin dengan fenomena tersebut, menurutnya Kedaulatan bukanlah Jargon yang bisa ditawar-tawar demi alasan apapun, demikian pula dalam menyikapi buah kebijakan luar negeri Amerika Serkat yang amat agresif.
Beliau secara konsisten menentang segala bentuk intervensi militer, tekanan ekonomi sepihak, hingga fenomena penculikan Presiden Venezuale. Tegasnya stabilitas dunia mustahil akan tercapai jika logika kekuatan selalu menindas logika keadilan.
Bentuk kritik dan kecaman Megawati terhadap Amerika Serikat terhadap Venezuale menjadi langkah nyata dari konsistensi ideologisnya.
Dengannya beliau memandang Tindakan tersebut bukan sekedar urusan geopolitik antar negara, melainkan sebuah luka terhadap hukum internasional serta martabat manusia. Lebih lanjut Megawati mempertanyakan peran fungsi PBB, adanya PBB kerap tidak mampu menyelesaikan permasalahan bangsa-bangsa.
Maka kemudian wajar kala itu Bung Karno pernah menyatakan sikap keluar dari PBB. Lebih dalam, menurut beliau tidak ada bangsa yang berhak untuk menggulingkan kepemimpinan sah negara lain hanya karena perbedaan kepentingan ekonomi maupun ideologi. Peritiwa Venezueala adalah alarm pengingat bahwa “Imperalisme Gaya Baru” masih menghantui dunia dan harus dilawan dengan diplomasi yang berprinsip.
Menurut Megawati, kedualatan adalah “Jangkar Martabat” yang menjamin setiap bangsa memiliki hak asasi untuk menentukan takdirnya sendiri. penentangan atas intervensi di Venezuela adalah ajakan bagi komunitas internasional untuk kembali menghormati kedaulatan nasional sebagai fondasi perdamaian global.
Indonesia di bawah pemikiran ini, memposisikan diri bukan sebagai buah bidak dalam papan catur kekuatan besar, hendaknya diletakan sebagai subyek Sejarah yang membawa misi suci, guna memastikan dunia tidak dikelola oleh siapa yang paling kuat melainkan oleh siapa yang paling setia pada etika kesetaraan.
Ekologi: Merawat Ibu Pertiwi Menuntun Bumi
Kesadaran akan kedaulatan politik dan bangsa ini kemudian meluas pada ranah kesadaran ekologi, sebuah visi yang beresonansi kuat dengan pesan-pesan universal dari Vatikan. Pertemuan bersejarah dengan Paus Fransiskus di Vatikan telah mampu menorehkan buah persamaan virtue spiritual yang teramat mendalam.
Ialah sebuah Bewust atau kesadaran akan krisis iklim bukanlah hanya masalah teknokratis melainkan sebuah cermin akan terjadinya krisis spiritual manusia kini.
Dalam kehangatan tukar piker tersebut keduanya memiliki kesamaan dalam memandang “Bumi Adalah Rumah Manusia” yang kini telah menangis merintih akibat keserahkan manusia yang telah kehilangan rasa hormat terhadap alam sebagai Rahim kehidupan.
Lebih lanjut, Megawati dan Paus Fransiskus bersepakat bahwa kerusakan lingkungan Adalah kegagalan etis peradaban manusia modern yang terlampau mendewakan pertumbuhan ekonomi materiil tanpa jiwa.
Zahirnya beliau menekankan bahwa penjaga hutan, merawat Samudra, dan melindungi keaneragaman hayati Adalah bentuk tanggungjawab moral yang melampaui sekat agam dan bangsa.
Wal hasil dari pertemuan filosofis tersebut melahirkan gagasan pemikiran dan kepemimpinan global masa depan yang harus mengedapankan pada “Keadilan EKologis” di mana hak-hak alam hendaknya diakui sebagai bagian yang terintgrasi dengan kehidupan manusia.
Keduanya dipandu oleh pikiran yang menentang arus utama Pembangunan global, dengan penuh sadar keadaan dewasa ini bentuk eksploitasi alam, pabrikasi alam, telah mempora-porandakan urat nadi bumi. Kendati menentang maut, megawati tak henti-hentinya menadvokasi bahkan menjadi platfom perjuangan yakni Merawat Pertiwi yang dilembagakan melalui partai yang dijalankan oleh seluruh kader PDI Perjuangan.
Inilah kepeloporan pemikiran seorang Megawati dalam panggung global dan nasional, kendati di penghujung usia Paus Fransiskus telah lebih dulu meninggalkan dunia yang menambah pilu suasana kebathinan hati seorang Megawati. Namun tak membuat surut jiwa dan pikiran Megawati untuk mengkampanyekan merawat bumi mencegah pembunuhan massal akibat amuk bumi.
Solidaritas Kemanusiaan Sebagai Muara Perjuangan
Inilah titik kulminasi pemikirannya, beliau memulai dengan pertanyaan yang sangat reflektif; “Untuk Siapa Dunia Ini Kita Bangun Jika Bukan Untuk Kemanusiaan Itu Sendiri?” solidaritas kemanusiaan ini Adalah puncak dari seluruh Langkah kepeloporannya, sebuah kunci untuk menjahit kembali dunia yang telah terkoyak oleh fanatisme identitas dan ketimpangan yang terbuka menganga.
Beliau melihat bahwa tanpa empati dan rasa senasib sepenanggungan, politik internasional hanya akan menjadi mesin kekerasan tanpa jiwa.
Dalam pandangan Megawati Solidaritas bukanlah sekedar tindakan kedermawanan sesaat, melainkan sebuah komitmen politik untuk membela mereka yang terpinggirkan. Lebih dalam beliau meyakini persaudaraan antar manusia harus mampu melampaui sekat-sekat ideologi dan batas negara.
Solidaritas ini perlahan akan menuntun sebuah keberanian untuk berbagi tanggungjawab atas krisis kemanusiaan di mana pun terjadi, sebab bagi beliau luka yang diderita oleh suatu bangsa Adalah luka bagi seluruh kemanusiaan. Inilah muara dari perjuangan beliau, sebuah perjuangan untuk mengembalikan martabat manusia sebagai pusat dari segala kebijakan global.
Megawati menitipkan estafet kepeloporan ini kepada generasi muda, beliau memandang anak muda bukan hanya sebagai kelompok pewaris masa depan, melainkan juga sebagai actor utama yang harus memiliki keberanian etis untuk melawan arus pragmatisme. Peradaban besar tidak akan runtuh karena kekurangan harta, akan tetapi karena kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan kedaulatan di tangan, etika lingkungan di hati, dan solidaritas dalam Langkah, Megawati menawarkan sebuah jalan baru bagi dunia, sebuah jalan yang tidak hanya menjanjikan kemajuan juga kemuliaan bagi seluruh penghuni bumi.
Megawati Soekarnoputri adalah sebuah sintesa antara heroisme sejarah dan visi masa depan, kedaulatan, etika lingkungan, dan solidaritas kemanusiaan bukanlah tiga entitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan napas perjuangan untuk menciptakan dunia yang lebih adil.
Kepeloporan Megawati telah mampu memberikan Pelajaran berharga bagi pemimpin dunia, bahwa kekuasaan tanpa etika adalah jalan kehancuran, dan pembangunan tanpa kepedulian lingkungan hanyalah ilusi kemajuan. Inilah seruan sejarah, sebuah panggilan bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam panggung sejarah.

















































































