Dili, Gesuri.id - Momentum penganugerahan penghargaan tertinggi Grande Colar da Ordem de Timor-Leste kepada Presiden Kelima Republik Indonesia, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, memantik pengakuan mendalam dari para petinggi Republik Demokratik Timor-Leste.
Tidak hanya mengagumi sosok Megawati sebagai personal, Presiden José Ramos-Horta, Wakil Perdana Menteri Francisco Kalbuadi Lay, hingga Penasihat Senior Nelson Santos secara khusus menyoroti rekam jejak dan legasi historis PDI Perjuangan (PDIP) sebagai episentrum perjuangan demokrasi yang dampaknya terasa hingga ke Timor-Leste.
Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta, menegaskan bahwa sejarah panjang perjuangan Megawati tidak bisa dilepaskan dari partai yang dipimpinnya. Ramos-Horta secara khusus menunjuk peristiwa kelam era Orde Baru sebagai titik balik yang mematangkan mentalitas perjuangan kepartaian di Indonesia.
"Peristiwa serangan 27 Juli 1996 (Kudatuli) terhadap markas PDI di Jakarta adalah momen penentu. Kekerasan hari itu mengubah Ibu Megawati menjadi simbol sipil paling menonjol dari perlawanan demokratis, yang darinya gerakan Reformasi kemudian lahir," ungkap Ramos-Horta, Jumat (10/7/2026)
Peristiwa Kudatuli tersebut dinilai menjadi fondasi kokoh yang melahirkan PDI Perjuangan sebagai kekuatan politik yang memperjuangkan kedaulatan rakyat.
Kesaksian emosional mengenai ketangguhan dan kedewasaan politik PDIP disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Kalbuadi Lay. Sebagai sosok yang mengalami langsung masa-masa saat Timor-Leste masih menjadi bagian dari Indonesia, Kalbuadi mengaku tahu betul bagaimana dinamika dan beratnya perjuangan partai berlogo banteng tersebut di bawah tekanan rezim penguasa.
"Untuk PDI Perjuangan, saya sendiri mengalami dan tahu karena ketika itu masih bersama Indonesia. Saya tahu betapa giatnya Ibu dan sabarnya seorang ibu untuk menantikan bahwa suatu saat orang dan rakyat akan sadar bahwa kebenaran adalah segalanya," kenang Chico, sapaan akrab Kalbuadi Lay.
Chico menambahkan, buah dari kesabaran politik dan kegigihan itu terbukti nyata dalam sejarah modern Indonesia. "Akhirnya Bu Mega membuktikan hari ini bahwa akhirnya PDI Perjuangan bisa menjadi partai yang terbesar sejak waktu itu sampai detik ini."
Sementara itu, Penasihat Senior Presiden Timor-Leste, Nelson Santos, menggarisbawahi peran institusional PDIP dalam peta politik regional di Asia Tenggara. Menurut Nelson, institusi kepartaian PDIP memiliki nilai historis yang sangat kaya dan menjadi teladan bagi negara yang baru membangun sistem demokrasinya seperti Timor-Leste.
"PDI Perjuangan sebagai sebuah partai memiliki sejarah yang panjang. Sebuah partai yang telah melihat dan mengawal masa transisi demokrasi di Indonesia," jelas Nelson Santos.
Bagi Nelson, keberhasilan PDIP dalam mengawal transisi demokrasi Indonesia dari era otoriter menuju iklim yang terbuka dan stabil adalah modal berharga. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa Timor-Leste menaruh hormat yang besar dan ingin menyerap banyak pelajaran dari pengalaman kepartaian PDIP.
"Bagi kami di Timor-Leste, tentunya banyak hal yang bisa kami pelajari dari PDI Perjuangan. Dan kami, tentu saja, akan memanfaatkan sejarah atau pengalaman PDI Perjuangan demi kemajuan demokrasi kami juga," pungkas Nelson Santos.
Melalui kehadiran Megawati di Dili, para pemimpin Timor-Leste meyakini bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Timor-Leste ke depan—baik secara pemerintahan maupun melalui jalur komunikasi kepartaian seperti PDIP—akan makin berkualitas.
"Akan makin terus berjalan di atas satu jalur utama: jalan persahabatan, rekonsiliasi, serta komitmen merawat perdamaian internasional," kata Nelson.

















































































