Ikuti Kami

Peristiwa Kudatuli, Dari Luka Sejarah Menjadi Titik Balik Kebebasan Demokrasi Indonesia

Tragedi bersejarah tersebut tidak sekadar menjadi catatan luka dan kekerasan masa lalu di era Orde Baru.

Peristiwa Kudatuli, Dari Luka Sejarah Menjadi Titik Balik Kebebasan Demokrasi Indonesia
Sejarawan dan politikus, Bonnie Triyana.

Jakarta, Gesuri.id - Peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996, yang dikenal sebagai Tragedi Kudatuli, merupakan salah satu lembaran paling kelam dalam perjalanan politik Indonesia. Kendati demikian, peristiwa berdarah ini menyimpan makna mendalam bagi perjalanan bangsa.

Tragedi bersejarah tersebut tidak sekadar menjadi catatan luka dan kekerasan masa lalu di era Orde Baru. Lebih dari itu, Peristiwa Kudatuli bertransformasi menjadi tonggak penting kelahiran kembali pilar demokrasi di tanah air.

Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar

Sejarawan dan politikus, Bonnie Triyana, memberikan pandangannya mengenai dampak besar dari peristiwa penyerangan kantor partai politik tersebut terhadap konstelasi politik nasional.

"Peristiwa Kudatuli bukan cuma luka sejarah, tetapi titik balik lahirnya demokrasi Indonesia," ujar Bonnie Triyana seperti yang dikutip melalui akun Instagram GenB.

Bonnie menilai penyerangan fisik terhadap kantor DPP PDI saat itu justru menjadi katalisator bagi eskalasi gerakan sosial yang jauh lebih luas di tengah masyarakat.

"Peristiwa 27 Juli 1996 menjadi salah satu pemicu menguatnya gerakan reformasi. Serangan terhadap kantor DPP PDI saat itu justru melahirkan gelombang perjuangan demokrasi yang semakin besar," jelasnya.

Lahirnya perlawanan rakyat pascapenyerangan tersebut pada akhirnya meruntuhkan tembok ketakutan dan membuka keran kebebasan sipil yang selama puluhan tahun terbungkam.

"Kudatuli membuka jalan bagi kebebasan berserikat, berkumpul, dan mendirikan partai politik tanpa rasa takut terhadap intimidasi," lanjut Bonnie.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

Ia menekankan pentingnya bagi generasi muda hari ini untuk menyadari bahwa iklim demokrasi dan kebebasan yang dinikmati saat ini tidak didapatkan secara gratis.

"Peristiwa ini mengingatkan bahwa kebebasan sipil yang kita nikmati hari ini lahir melalui perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Setiap kebebasan untuk menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, dan berorganisasi adalah hasil dari perjuangan banyak orang berani melawan ketidakadilan," pungkasnya.

Quote