Jakarta, Gesuri.id - Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengunjungi beberapa siswa korban dugaan keracunan makan bergizi gratis di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, untuk memastikan kondisi mereka baik.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kulon Progo Yuliyantoro di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan kunjungan ke rumah siswa yang diduga keracunan untuk memberikan semangat kepada korban dan keluarga.
"Makan bergizi gratis ini merupakan program dari pemerintah pusat, artinya kita ikut mengawasi di daerah. Dalam arti nanti Fraksi PDI Perjuangan memerintahkan kepada anggota kita yang ada di komisi untuk turun ke lapangan pada Senin (26/1), yakni meninjau ke sekolah yang menjadi tempat belajar adik-adik korban kemarin," kata Yuliyantoro.
Baca: Ganjar Minta Parpol Pendukung Wacana Kepala Daerah Dipilih
Ia berharap kejadian dugaan keracunan siswa akibat MBG ini bisa menjadi evaluasi terhadap pelaksana MBG dalam hal ini Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, kejadian-kejadian dugaan keracunan dan standar penyajian dan kandungan gizi seperti itu diawasi, dan dievaluasi.
"Harapan kami, program ini betul-betul diawasi masalah kebersihan, masalah gizinya, masalah keamanan dari apa, dari menu yang disajikan. Dan jangan sampai terulang lagi di tempat lain," harap Yuliyantoro.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kulon Progo dari Fraksi PDIP Kulon Progo Edi Priyono mengatakan alokasi anggaran untuk program MBG telah menggeser banyak kegiatan lain, langkah efisiensi anggaran terbukti sangat berpengaruh terhadap kinerja semua sektor. Semestinya semua yang terlibat dalam SPPG harus mengutamakan keamanan dan kualitas gizi yang didistribusikan kepada anak-anak sekolah.
"Menurut kami lepas dari urusan bisnis dan segala macam lampiran persoalan dalam pelaksanaan program MBG, perbaikan gizi anak sekolah yang dilakukan oleh pemerintah merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang cenderung memiliki kesehatan, konsentrasi, dan daya tahan tubuh yang lebih baik sehingga lebih siap mengikuti proses pembelajaran. Namun, kebijakan ini seharusnya tidak berdiri sendiri. Perbaikan gizi perlu disertai dengan sistem pendidikan yang tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara optimal oleh siswa," kata Edi.
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte
Menurut dia, setiap anak memiliki kemampuan dan gaya belajar yang berbeda-beda. Ada anak yang mudah memahami pelajaran melalui penjelasan visual, ada yang lebih kuat secara auditori, dan ada pula anak kinestetik yang belajar paling efektif melalui gerakan dan praktik langsung. Jika sistem pendidikan hanya menekankan metode belajar yang monoton, seperti ceramah dan hafalan, maka potensi banyak siswa tidak akan berkembang dengan baik, meskipun kebutuhan gizinya sudah terpenuhi. Anak kinestetik, misalnya, membutuhkan pembelajaran yang melibatkan aktivitas fisik agar dapat memahami materi secara maksimal.
"Oleh karena itu, pemerintah perlu menyinergikan program perbaikan gizi dengan pembenahan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif. Guru jangan terlalu dibebani urusan administrasi tetapi perlu dibekali pelatihan untuk memahami perbedaan gaya belajar siswa serta menerapkan metode pembelajaran yang variatif. Dengan kombinasi gizi yang baik dan sistem pendidikan yang menghargai keragaman kemampuan anak, proses belajar akan berjalan lebih efektif dan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai secara menyeluruh," katanya.
Edi menambahkan hal yang perlu diingat pula bahwa rentang usia anak sekolah cukup lebar (6 - 18 tahun). Oleh sebab itu anak sekolah tidak homogen, maka kajian kebutuhan gizi sangat penting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.
"Kajian kebutuhan gizi setiap tingkatannya sangat penting, sehingga program ini benar-benar dapat meningkatkan SDM siswa," katanya.

















































































