Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Dede Indra Permana Soediro, mendesak Polri mengembangkan penggerebekan kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dengan membongkar jaringan besar peredaran narkotika hingga ke bandar, pemasok, pengendali, dan pihak-pihak yang diduga memberikan perlindungan. Ia menegaskan, pengungkapan kasus tersebut harus menyasar seluruh mata rantai kejahatan, termasuk aliran dana hasil bisnis narkoba.
“Penangkapan ini harus jadi awal polisi untuk mengungkap siapa bandar, pemasok, pengendali, dan pihak-pihak yang diduga menjadi pelindung aktivitas peredaran narkotika,” kata Dede, Rabu (4/11/2026).
Politikus Fraksi PDI Perjuangan itu menilai keberhasilan operasi pemberantasan narkoba tidak cukup hanya diukur dari jumlah pelaku yang ditangkap maupun barang bukti yang berhasil disita. Menurutnya, penegakan hukum harus dilakukan secara komprehensif dengan membongkar struktur jaringan hingga sumber pendanaan yang menopang aktivitas ilegal tersebut.
Ia secara khusus meminta aparat penegak hukum menelusuri aliran dana hasil peredaran narkotika. Langkah ini dinilai penting untuk memutus sumber kekuatan ekonomi jaringan bandar sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk kembali membangun bisnis narkoba setelah dilakukan penindakan.
Dede juga menyoroti karakter kejahatan narkotika yang memiliki jaringan, pola operasi, serta sumber pendanaan terorganisasi. Karena itu, diperlukan sinergi antarlembaga penegak hukum agar pengungkapan perkara tidak berhenti pada pelaku yang tertangkap di lapangan.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap 27 orang yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkotika dan menyita senjata api saat menggerebek kawasan Kampung Bahari pada Minggu (1/11). Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso menyebut penggerebekan dilakukan secara serentak dengan melibatkan tim gabungan dari sejumlah instansi.
“Kami melakukan penggerebekan dari berbagai sisi. Oleh karena itu kami lakukan serempak, kemudian kami berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, Bareskrim, Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya,” kata Bismo.
Menanggapi operasi tersebut, Dede menekankan bahwa penanganan kawasan rawan narkoba tidak boleh hanya mengandalkan pendekatan penindakan. Pemerintah dan aparat penegak hukum juga perlu menghadirkan langkah pencegahan, rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika, pemberdayaan masyarakat, serta pemulihan lingkungan sosial.
Menurutnya, masyarakat yang ingin hidup aman dan terbebas dari narkoba harus mendapatkan perlindungan dari ancaman maupun tekanan jaringan bandar. Jangan sampai warga yang seharusnya menjadi bagian dari solusi justru menjadi korban akibat aktivitas peredaran narkotika di lingkungan tempat tinggalnya.
“Jangan sampai masyarakat yang sebenarnya ingin hidup aman dan terbebas dari narkoba justru menjadi korban atau berada dalam tekanan jaringan bandar,” ujarnya.
Dede berharap pengembangan kasus penggerebekan Kampung Bahari dapat mengungkap jaringan peredaran narkotika secara menyeluruh, termasuk pihak-pihak yang berada di balik operasional dan pendanaan bisnis ilegal tersebut. Dengan demikian, upaya pemberantasan narkoba tidak hanya memutus peredaran di tingkat bawah, tetapi juga menyasar kekuatan utama yang mengendalikan jaringan.

















































































