Ikuti Kami

Abidin Fikri Tegaskan Kepala Sekolah Garda Terdepan Tanamkan Empat Pilar Sejak Dini

Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat pemahaman wawasan kebangsaan bagi para tenaga pendidik

Abidin Fikri Tegaskan Kepala Sekolah Garda Terdepan Tanamkan Empat Pilar Sejak Dini
Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Dr. H. Abidin Fikri, S.H., M.H.

Bekasi Gesuri.id — Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Dr. H. Abidin Fikri, S.H., M.H., menegaskan bahwa kepala sekolah dan pendidik memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI sejak dini. Sekolah tidak hanya dituntut untuk membentuk peserta didik yang cerdas secara akademik, melainkan juga memiliki karakter yang kuat, integritas tinggi, dan jati diri kebangsaan yang kokoh.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Abidin dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Sekolah Dasar (SD) Swasta Kota Bekasi, bertempat di Bekasi pada Selasa (1/9/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat pemahaman wawasan kebangsaan bagi para tenaga pendidik yang memegang posisi kunci dalam membentuk karakter generasi muda bangsa.

Dalam pemaparannya, Abidin menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR RI—yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika—tidak boleh sekadar dipahami sebagai materi hapalan teoretis semata. Nilai-nilai tersebut harus dihidupkan melalui budaya sekolah yang nyata, sehingga dapat meresap dan menjadi bagian integral dari sikap serta perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca: 

Secara khusus, ia membedah makna Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Menurutnya, Pancasila merupakan pedoman hidup bangsa, fondasi kehidupan bernegara, sekaligus landasan filsafat negara yang tidak tergantikan.

Oleh karena itu, nilai-nilai luhur Pancasila harus senantiasa menjadi pijakan utama bagi peserta didik dalam berinteraksi sosial, mengambil keputusan, menghargai sesama, serta menghadapi berbagai dinamika perubahan zaman.

"Pancasila jangan berhenti menjadi hafalan. Pancasila adalah pedoman hidup, fondasi, dan landasan filsafat negara. Nilai-nilainya harus hadir dalam kehidupan anak-anak, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat," ujar Abidin di hadapan para kepala sekolah.

Ia menambahkan, implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah dapat diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan sederhana tetapi berdampak nyata, seperti membiasakan budaya gotong royong, menghargai perbedaan pendapat, menerapkan musyawarah mufakat, berlaku adil, serta membangun rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya mengetahui teori Pancasila, tetapi juga mengalami dan mempraktikkannya secara langsung.

Pada sesi berikutnya, Abidin mengajak para kepala sekolah untuk kembali meresapi Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, khususnya alinea keempat yang memuat tujuan luhur bernegara. Keempat tujuan tersebut meliputi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Ia menekankan bahwa tujuan bernegara tersebut memiliki korelasi yang sangat erat dengan tugas mulia dunia pendidikan. Ketika para kepala sekolah dan guru mendidik anak-anak bangsa, sesungguhnya mereka sedang menjalankan amanat konstitusi secara langsung, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

"Ketika bapak dan ibu kepala sekolah mendidik anak-anak, sesungguhnya bapak dan ibu sedang ikut menjalankan amanat konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, tugas pendidikan memiliki dimensi kebangsaan yang sangat kuat," tegasnya.

Selain itu, Abidin juga memaparkan sejarah lahirnya Pancasila dan UUD 1945, mulai dari proses persidangan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), peran Panitia Sembilan, hingga perumusan dan pengesahan konstitusi. Menurutnya, pemahaman historis ini sangat penting untuk dikenalkan kepada generasi muda agar mereka menyadari bahwa dasar negara dan konstitusi lahir melalui proses panjang, perdebatan gagasan yang konstruktif, serta semangat kenegarawanan para pendiri bangsa.

Ia juga mengingatkan bahwa di tengah kompleksitas tantangan zaman akibat perkembangan teknologi dan arus informasi yang deras, Empat Pilar kebangsaan dapat menjadi filter moral bagi peserta didik. Dengan demikian, mereka dapat menyaring pengaruh luar tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya.

"Kami ingin kepala sekolah pulang dari kegiatan ini membawa semangat untuk menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuhnya generasi Pancasilais. Dari sekolah inilah karakter bangsa dibentuk," pungkasnya.

Quote