Ikuti Kami

Ansari Evaluasi Layanan Haji: Soroti Rekrutmen Petugas hingga Manajemen Mina

Kendati mengapresiasi kelancaran operasional secara umum, ia menilai ada beberapa lini krusial yang wajib dibenahi pada musim haji mendatang

Ansari Evaluasi Layanan Haji: Soroti Rekrutmen Petugas hingga Manajemen Mina
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur XI Madura, Hj. Ansari.

Jakarta, Gesuri.id – Anggota Komisi VIII DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur XI Madura, Hj. Ansari, menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait evaluasi penyelenggaraan ibadah haji reguler tahun ini. 

Kendati mengapresiasi kelancaran operasional secara umum, ia menilai ada beberapa lini krusial yang wajib dibenahi pada musim haji mendatang.

Salah satu poin positif yang disorot Ansari adalah operasional Bus Shalawat 24 jam yang dinilai sangat membantu mobilitas jemaah dari pemondokan menuju Masjidil Haram. Namun, apresiasi ini diikuti dengan catatan tebal mengenai rasio jumlah petugas di lapangan.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar 

Menurutnya, jumlah petugas kesehatan dan pendamping jemaah lanjut usia (lansia) saat ini masih jauh dari kata memadai jika dibandingkan dengan jumlah jemaah di lapangan.

"Ke depan, kami berharap pemerintah menambah jumlah petugas serta meningkatkan kualitas pendampingan bagi jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi," kata Hj. Ansari, Rabu (3/6).

Legislator perempuan satu-satunya dari Pulau Madura di Senayan ini juga menyentuh isu sensitif mengenai sistem rekrutmen petugas haji. Ansari menegaskan bahwa proses seleksi harus diperketat demi memastikan mereka yang terpilih benar-benar berniat melayani jemaah, bukan sekadar memanfaatkan kesempatan untuk berhaji.

"Proses seleksi harus mengedepankan kompetensi, integritas, dan dedikasi pelayanan. Ini berlaku mutlak khususnya bagi petugas bimbingan ibadah, akomodasi, dan bidang pelayanan lainnya," tegas politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Catatan merah lain yang dibawa Ansari adalah terbatasnya armada transportasi pada fase krusial pergerakan jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menuju hotel. Keterbatasan ini dinilai mengganggu kenyamanan dan memperlambat mobilitas jemaah.

Di sektor logistik, Ansari juga membandingkan ketimpangan kualitas layanan makanan dan fasilitas antara dua fase krusial.

"Pelayanan logistik di Mina masih perlu ditingkatkan. Kualitas layanan yang diterima jemaah di Mina belum sebaik pelayanan yang diberikan saat mereka berada di Arafah," ungkapnya.

Baca: Ganjar Beri Kunci Untuk Dapatkan Pekerjaan Bagi Generasi Muda

Sebagai solusi jangka panjang, Ansari mengusulkan agar Kementerian Agama menerapkan pola pelayanan yang jauh lebih spesifik untuk jemaah lansia. Pola ini meliputi:

- Pengaturan waktu keberangkatan dan kepulangan yang lebih ramah lansia.

- Penempatan hotel yang memiliki fasilitas ramah disabilitas dan lansia.

- Penambahan kuota petugas pendamping khusus yang tersertifikasi.

Ansari berharap jajaran kementerian terkait menjadikan catatan-catatan lapangan ini sebagai bahan evaluasi konkret demi keselamatan jemaah ke depan.

"Dengan perbaikan yang berkelanjutan, kita ingin seluruh jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman, nyaman, dan khusyuk," pungkasnya.

Quote