Jakarta, Gesuri.id — Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Hj. Ansari meminta Kementerian Haji dan Umrah memastikan kesiapan teknis dan operasional embarkasi Surabaya dalam menghadapi lonjakan signifikan jumlah jamaah haji pada tahun ini.
Hal tersebut disampaikan Ansari dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR dengan Menteri Haji dan Umroh di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (25/11).
Ansari mengapresiasi pemaparan pemerintah yang dinilainya cukup jelas, termasuk berbagai langkah mitigasi yang disiapkan. Ia berharap seluruh masukan dari anggota Komisi VIII dapat menyempurnakan proses penyelenggaraan haji di masa mendatang.
“Alhamdulillah, penjelasan sore ini sudah sangat cukup jelas menurut saya. Mudah-mudahan dengan mitigasi dan masukan dari teman-teman, semuanya bisa lebih menyempurnakan proses haji ke depan,” ujar Ansari.
Namun demikian, ia menyoroti persoalan kesiapan menghadapi penambahan jumlah jamaah di berbagai daerah, terutama di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Jawa Timur sendiri mengalami lonjakan besar mencapai 42.409 jamaah, bertambah sekitar 8.000 dari tahun sebelumnya.
“Yang bertambah ini yang sulit. Di Jawa Timur jumlah jamaahnya 42.409, Bali bertambah 698, NTT bertambah 516. Ini bukan penambahan yang kecil,” tegasnya.
Ansari membandingkan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang jumlah jamaahnya hanya sekitar 9.000 tetapi membutuhkan satu embarkasi penuh. Karena itu, ia menilai tambahan ribuan jamaah di Jawa Timur membutuhkan kesiapan fasilitas dan manajemen yang jauh lebih matang.
“Bagaimana kesiapan embarkasi Surabaya menghadapi bertambahnya jamaah hingga 8.000 orang? Ini perlu penjelasan dari Pak Menteri,” lanjutnya.
Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menunggu munculnya kendala di lapangan baru kemudian melakukan penyesuaian, sebagaimana sering terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Persiapan matang sejak awal dinilai sangat krusial.
Ansari juga menyampaikan harapan besar agar penyelenggaraan haji oleh Menteri Haji dan Umrah di periode perdana ini dapat menjadi percontohan haji dunia, mengingat jamaah Indonesia menyumbang sekitar 14 persen dari total jamaah di Arab Saudi.
“Kalau kita benar-benar sukses, ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Kita ingin penyelenggaraan ini menjadi percontohan haji dunia,” ujarnya.
Ia optimistis bahwa setelah dua tahun masa penyesuaian, penyelenggaraan haji Indonesia dapat kembali normal. “Kalau kita lewati ini selama satu atau dua tahun, insyaallah setelah itu normal lagi,” tutup Ansari.

















































































