Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VIII DPR RI Hj. Ansari, menegaskan bahwa tantangan utama menuju Indonesia Emas 2045 terletak pada kemampuan bangsa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Indonesia hanya akan bernilai strategis apabila diarahkan secara tepat untuk melahirkan generasi emas yang unggul secara utuh.
Hj. Ansari menjelaskan, generasi emas bukan sekadar generasi yang cerdas secara akademik, melainkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecakapan intelektual, kematangan karakter, serta daya saing global.
Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik
Tanpa pendidikan yang berkualitas, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.
Ia menyebutkan, setidaknya terdapat beberapa tipe utama generasi emas yang harus disiapkan melalui pendidikan. Pertama, generasi berkarakter kuat, yakni generasi yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Kedua, generasi kompeten yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta literasi teknologi yang memadai.
Ketiga, lanjut Hj. Ansari, generasi adaptif dan tangguh, yaitu generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, tidak mudah menyerah, serta memiliki daya juang tinggi dalam menghadapi tantangan global. Keempat, generasi berdaya saing yang mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
“Generasi emas itu bukan hanya pintar, tapi juga berakhlak, tangguh, dan siap menghadapi persaingan dunia. Inilah yang harus kita siapkan sejak sekarang melalui pendidikan,” tegas Perempuan yang pernah mengabdi di Yayasan Al-Uswah selama 14 Tahun itu.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi risiko terjebak dalam middle income trap apabila kualitas SDM tidak mengalami lompatan signifikan. Oleh karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai instrumen strategis pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap kebijakan.
Dalam pandangannya, tanggung jawab pendidikan juga tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Peran keluarga, khususnya orang tua, menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan mental generasi emas sejak usia dini.
“Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara menjadi kunci keberhasilan pendidikan,” ujarnya.
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte
Hj. Ansari mengapresiasi keberadaan Sekolah Orang Tua (SOT) yang dinilai mampu memperkuat pemahaman orang tua mengenai peran strategis mereka dalam menyiapkan generasi masa depan.
Ia berharap Pamekasan, sebagai bagian dari Madura Raya, dapat menjadi salah satu daerah yang melahirkan generasi emas melalui pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berorientasi jangka panjang.
“Jika pendidikan kita kelola dengan sungguh-sungguh, maka generasi emas bukan sekadar wacana, tetapi keniscayaan,” pungkasnya.

















































































