Jakarta, Gesuri.id — Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) XV Kabupaten Sekadau di Betang Youth Center Sekadau, Senin (21/7).
Krisantus menegaskan bahwa perayaan adat merupakan ungkapan syukur dan pemersatu masyarakat yang tidak boleh dinodai oleh perilaku konsumsi alkohol berlebihan.
Perhelatan budaya terbesar di Kabupaten Sekadau yang berlangsung hingga 25 Juli 2026 ini mengusung tema “Melestarikan Adat dan Budaya Dayak sebagai Jati Diri dalam Membangun Sekadau yang Berbudaya dan Berkelanjutan.” Acara tahunan tersebut dihadiri ribuan warga, tokoh adat, pejabat daerah, serta perwakilan berbagai subsuku Dayak.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Krisantus menekankan bahwa kebudayaan merupakan benteng pertahanan identitas masyarakat di tengah derasnya arus globalisasi.
"Gawai Dayak bukan hanya seremoni tahunan, tetapi bentuk nyata pelestarian budaya dan ungkapan syukur atas hasil kerja serta kehidupan yang dianugerahkan Tuhan," ujar Krisantus di hadapan ribuan masyarakat yang hadir.
Secara khusus, Krisantus menyoroti kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol selama perayaan adat berlangsung. Ia meminta masyarakat untuk bijak dan tidak merusak makna luhur dari tradisi leluhur.
"Tradisi minum dalam budaya Dayak memiliki nilai adat dan ritual tertentu. Jangan sampai disalahartikan menjadi budaya mabuk yang justru merusak citra masyarakat Dayak," tegasnya.
Selain aspek kebudayaan, Krisantus juga mendorong penguatan peran masyarakat Dayak di bidang politik dan ekonomi. Kepada para pelaku usaha dan investor yang beroperasi di Sekadau, ia mengimbau agar keberadaan investasi turut dirasakan manfaatnya oleh warga lokal.
"Investasi yang masuk ke daerah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui kepatuhan terhadap regulasi, pembayaran pajak, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah," kata Krisantus.
Ia juga mendorong pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif guna memperkuat ketahanan energi daerah.
Dukungan terhadap pelaksanaan PGD XV juga disampaikan oleh Bupati Sekadau, Aron. Ia mengapresiasi kerja keras panitia yang tetap menyelenggarakan acara dengan meriah di tengah efisiensi anggaran.
"Warisan budaya harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Gawai menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka," tutur Aron.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DAD Kabupaten Sekadau, Jeffray Raja Tugam, mengingatkan agar kemeriahan acara tidak mengabaikan makna inti dari perayaan itu sendiri.
"Jangan sampai pelaksanaan Gawai membebani ekonomi keluarga. Makna syukur jauh lebih penting daripada kemegahan perayaan," pesan Jeffray.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Sementara itu, Ketua Panitia PGD XV Sekadau, Bernadus Motar, menjelaskan bahwa kegiatan yang dipusatkan pada Subsuku Dayak Benawas sebagai tuan rumah ini menjadi wadah kebersamaan warga.
"Gawai Dayak adalah identitas dan kebanggaan masyarakat Dayak. Melalui kegiatan ini, kita mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mewariskan budaya leluhur agar tetap hidup sepanjang zaman," pungkas Bernadus.
Mengakhiri arahannya, Krisantus Kurniawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan antarsuku dan agama demi mewujudkan pembangunan Kalimantan Barat yang harmonis, inklusif, dan maju.

















































































