Ikuti Kami

Cahaya di Dalam Hati: Saat Kepedulian Sofyan Tan Menyapa Anak-Anak SLB A Karya Murni

Meski tak dapat melihat sosok yang hadir, para siswa mampu merasakan kehangatan tamu mereka melalui hati.  

Cahaya di Dalam Hati: Saat Kepedulian Sofyan Tan Menyapa Anak-Anak SLB A Karya Murni
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan.

​Medan, Gesuri.id – Lantunan suara nyanyian anak-anak menyambut kedatangan anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di SLB A Karya Murni, Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Jumat (28/8). 

Nyanyian itu terdengar riang dan penuh semangat, seolah menyisihkan segala keterbatasan. Meski tak dapat melihat sosok yang hadir, para siswa mampu merasakan kehangatan tamu mereka melalui hati.  

​Menariknya, pertemuan tersebut bukanlah awal dari perhatian Sofyan Tan terhadap SLB A Karya Murni. Jauh sebelum melangkah ke sekolah ini, bantuan pendidikan Program Indonesia Pintar (PIP) sudah bertahun-tahun disalurkan kepada para siswa.  

​"Sejak awal saya sudah menginstruksikan agar SLB-SLB di sekitar kami yang membutuhkan bantuan segera didata dan diberikan beasiswa PIP," ujar Sofyan.  

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar 

​Bagi Sofyan, memberikan akses pendidikan tidak perlu menunggu kunjungan tatap muka. Kehadirannya hari itu menjadi momentum untuk mendengar lebih jauh aspirasi serta kebutuhan para siswa dan tenaga pengajar.  

​Saat mengetahui operasional sekolah masih bergantung pada donasi dan bantuan orang tua murid yang mampu, Sofyan tergerak memberikan bantuan pribadi. Dari gajinya, ia menyumbangkan lima unit kipas angin serta insentif untuk 16 guru masing-masing sebesar Rp500 ribu, dengan total Rp8 juta.  

​"Angka lima mengingatkan kita pada Pancasila, sedangkan angka delapan adalah simbol garis yang tak pernah putus. Semoga silaturahmi dan hubungan kita semua terus terjalin tanpa putus," tuturnya.  

​Kepala Sekolah SLB A Karya Murni, Suster Petriani br Saragih, mengungkapkan perjuangan para guru dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Para siswa dibimbing membaca, menulis, mengenali lingkungan, menggunakan laptop, memasak, hingga bermain musik agar kelak dapat hidup mandiri.  

​"Harapan kami, mereka memiliki tempat dan kesiapan untuk menyongsong masa depan," kata Suster Petriani.  

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​Di balik proses belajar tersebut, tersimpan kisah-kisah haru. Seorang anak pernah polos bertanya, "Boleh pinjam mata Suster?" hanya karena ingin tahu warna baju yang dikenakannya. Ada pula Jojo, siswa tunanetra sekaligus penyandang autisme yang belum memahami bahwa ibunya telah berpulang, sehingga kerap meminta dihubungkan dengan sang ibu melalui telepon.  

​Mendengar dedikasi tersebut, Sofyan menyampaikan rasa hormat mendalam kepada para guru yang bekerja bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan memenuhi panggilan hati. Sebelum berpamitan, ia menyisipkan pesan mendalam.  

​"Cahaya itu ada di dalam hati, bukan di mata. Ada orang yang matanya terang, tetapi hatinya gelap," pungkas Sofyan.  

​Kunjungan tersebut menegaskan sebuah pesan hangat: keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi lahirnya harapan, dan kepedulian sejati akan selalu hadir bahkan sebelum diminta.

Quote