Malang Selatan, Gesuri.id - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengunjungi kawasan konservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Malang Selatan, Jawa Timur, Sabtu (17/10/2026).
Didampingi sejumlah pengurus DPP, ia berkeliling kawasan, meninjau rumah pembibitan, lalu menanam mangrove bersama warga.
CMC Tiga Warna adalah kawasan ekowisata pantai dan konservasi mangrove di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, berdekatan dengan Pantai Tiga Warna. Peserta workshop dari kalangan nelayan, ibu-ibu, dan anak muda sudah menunggu di sana.
Hasto datang bersama Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini, dan Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup Eriko Sotarduga. Sesuai aturan kawasan, barang bawaan rombongan diperiksa sebelum masuk. Rombongan lalu berkeliling area, mendapat penjelasan pengelolaan kawasan, mengunjungi pembibitan, dan menanam mangrove bersama warga. Hasto, Andreas, Eriko, dan Risma tampak ikut menanam.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Usai menanam, Hasto membuka aplikasi peta di telepon selulernya dan mencatat titik koordinat tanaman itu. "Saya sekarang tahu dan mencatat koordinat tanaman ini, jadi kalau saya mau mengeceknya saya tahu lokasi persisnya," kata Hasto sambil tersenyum.
Ia menegaskan penanaman mangrove bukan kegiatan seremonial. Ditegaskannya PDIP terus mengampanyekan program Merawat Pertiwi. Salah satunya dengan menanam mangrove. "Gerakan menanam mangrove adalah wujud tanggung jawab kita menjaga kehidupan. Mangrove membantu melindungi pantai dari abrasi, menjadi tempat hidup dan berkembang biak berbagai biota laut, serta menyerap dan menyimpan karbon," ujarnya. "Menjaga mangrove berarti menjaga lingkungan sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir."
Dampak ekonomi dan empat pantun

Setelah menanam, Hasto dan rombongan bergabung dengan komunitas mengikuti webinar melalui Zoom yang disiarkan kanal YouTube Tunas Hijau milik pegiat lingkungan M. Zamroni.
Sementara itu, penggerak CMC Saptoyo memaparkan dampak ekonomi kawasan. "Dampak manfaat dari tempat ini sudah berkontribusi, enggak banyak, mengungkit perekonomian kampung itu sebanyak 2 miliar per tahun," ujarnya. Kawasan itu, katanya, menjadi sumber aktivitas ekonomi bagi 60 orang, dari pemandu, penyedia makanan wisatawan, jasa penyeberangan, hingga homestay.

Zamroni memaparkan perjalanan Tunas Hijau yang ia dirikan sejak 1999 dan akademi Pangeran-Putri Lingkungan Hidup sejak 2002. Menurut penyelenggara, peserta webinar yang bergabung tercatat 2.587 orang.
Menjawab pertanyaan peserta, Hasto menyampaikan empat pantun yang ia siapkan untuk forum itu.
Pertama: "Pak Saptoyo dan Roni merawat pertiwi, mangrove jadi teman di kehidupan sehari-hari. Keringat deras, darah, dan air mata menjadi pupuk bagi bumi, alam pun menjadi hijau berseri-seri."

Kedua: "Bung Karno dan Bu Mega pencinta Indonesia sejati. Merawat pertiwi muncul dari dalam hati. Bangunlah jiwa anak bangsa bagi ibu pertiwi."
Ketiga: "Politik adalah kehidupan. Menggerakkan anak muda sebagai pemilik masa depan. Teruslah berjuang merawat kehidupan, jaga alam sebagai ciptaan Tuhan."
Keempat: "Pantai Clungup getarkan jiwa raga. Menanam mangrove dengan penuh semangat. Di sini alam pun bersukacita persembahkan oksigen bagi semesta."
Agar kredit karbon komunitas diterima pembeli

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Forum itu juga mengungkap arah yang dituju: membuat kredit karbon dari komunitas rakyat kecil bisa diserap pembeli global.
Andreas Eddy Susetyo menceritakan pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia di Washington pada April lalu, ketika pembeli karbon skala besar justru menanyakan unit kredit berbasis komunitas. Jawabannya, kata dia, menyatukan komunitas kecil agar memenuhi skala permintaan.
Eriko Sotarduga mengakui jalannya tidak sederhana karena persyaratannya beraneka ragam. Persoalan itu, katanya, akan diperjuangkan partainya di parlemen. "Kita minta kepada Pak Andreas, kepada Pak Dolfie, kepada Pak Said Abdullah yang ada dari Jawa Timur untuk memperjuangkan perdagangan karbon ini. Bahwa yang berbuat harus menerima manfaatnya," ujarnya.
Ia berharap kawasan konservasi di Malang Selatan menjadi percontohan pertama. "Mari kita sama-sama berjuang, kita berdoa, kita berupaya, saudara-saudara kita di parlemen, bisa memperjuangkan ini sehingga terwujud. Dan kita doakan Clungup menjadi yang pertama," kata Eriko.
Kegiatan itu bagian dari rangkaian Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Penggiat Lingkungan Mangrove yang berlangsung sejak Jumat (16/10/2026), mencakup workshop bagi anak muda, ibu-ibu, dan nelayan, deklarasi komunitas, serta aksi menanam mangrove dan memungut sampah di kawasan CMC.

















































































