Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Saifudin Zuhri, mendorong Pemerintah Kota Batu untuk segera menerbitkan kebijakan tegas demi memperkuat ekosistem kesenian lokal.
Langkah ini dinilai krusial agar keberadaan seniman tidak sekadar bergantung pada agenda tahunan yang bersifat sporadis, melainkan terintegrasi langsung dalam sistem pariwisata daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Saifudin saat menggelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan bertajuk “Berkarya melalui Seni, Berkarakter melalui Budaya” di Pusat Oleh-Oleh Kendedes, Junrejo, Kota Batu, Sabtu (17/10).
Baca: Ganjar Pranowo Sosok Pemimpin yang Disukai Semua Kalangan
Menurut Saifudin, Kota Batu yang berpredikat sebagai destinasi wisata skala nasional seharusnya mampu meniru kesuksesan kawasan seperti Bali atau Yogyakarta. Di sana, seni dan budaya menjadi identitas utama sekaligus penggerak ekonomi yang menyatu dengan industri perhotelan dan destinasi wisata.
“Harus ada ‘rembuk besar’ yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), mulai dari pemerintah daerah, pelaku seni, pengusaha hotel, hingga pengelola destinasi wisata. Kita butuh aturan dasar, seperti Peraturan Wali Kota (Perwali), yang mewajibkan penyajian pertunjukan seni lokal dalam setiap kegiatan atau operasional sektor pariwisata,” tegas Saifudin.
Ia mencontohkan, potensi besar seni tradisi dari 24 desa dan kelurahan di Kota Batu dapat dijadwalkan tampil secara berkala di pusat keramaian, seperti area parkir destinasi wisata utama hingga panggung kebudayaan Arjuna Wiwaha.
“Jika kegiatan seni disusun secara tersistem, wisatawan bisa menikmati pertunjukan walau hanya 5 sampai 10 menit. Aset budaya seperti Arjuna Wiwaha tidak akan sepi pengunjung, dan para seniman memiliki kepastian ruang untuk terus berkembang,” tambahnya.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Guna mengawal aspirasi masyarakat kebudayaan secara konkret, Saifudin menegaskan bahwa DPC PDI Perjuangan Kota Batu siap mengoptimalkan peran Badan Kebudayaan Nasional (BKN) partai sebagai wadah pembinaan pelaku seni lokal. Pihaknya juga menginstruksikan enam anggota DPRD Kota Batu dari Fraksi PDI Perjuangan untuk mengawal penyusunan regulasi seni-budaya tersebut di tingkat legislatif.
Selain menyoroti keberlanjutan ekonomi pelaku seni, acara yang didominasi oleh generasi muda (Gen Z) ini juga dimanfaatkan sebagai ruang pendidikan politik dan regenerasi kepemimpinan. Saifudin menilai keterlibatan Gen Z dalam kegiatan kebudayaan merupakan fondasi penting untuk mencetak calon pemimpin Kota Batu masa depan yang berkarakter.
“Regenerasi itu mutlak. Anak-anak muda yang sedang menempuh pendidikan atau berproses harus dibekali pengetahuan dan kesadaran budaya. Ketika kelak memegang tampuk kepemimpinan di Kota Batu, mereka sudah memiliki bekal wawasan yang kuat,” pungkasnya.

















































































