Ikuti Kami

Edy Wuryanto Kritik Penanganan Kesehatan Karhutla Kalsel: Negara Harus Hadir, Jangan Biarkan Warga Terdampak!

Menurut Edy, penanganan karhutla tidak boleh berfokus pada pemadaman api dan kerusakan lingkungan semata.

Edy Wuryanto Kritik Penanganan Kesehatan Karhutla Kalsel: Negara Harus Hadir, Jangan Biarkan Warga Terdampak!
Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto.

Jakarta, Gesuri.id  — Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyoroti belum optimalnya penanganan kesehatan bagi masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. 

Ia mendesak pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk memperkuat layanan medis, khususnya bagi warga yang terpapar kabut asap dan mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

​Menurut Edy, penanganan karhutla tidak boleh berfokus pada pemadaman api dan kerusakan lingkungan semata, tetapi juga wajib menjamin akses kesehatan yang cepat, tepat, dan merata bagi masyarakat.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​“Penanganannya belum efektif. Dibutuhkan kerja keras pemda dan kementerian terkait, terutama untuk mengatasi gangguan saluran pernapasan, asma, dan penyakit akibat polusi udara,” ujar Politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut saat kunjungan kerja reses Komisi IX DPR RI.

Edy mengungkapkan, pihaknya masih menerima laporan warga terdampak yang belum memperoleh penanganan medis secara optimal. Ia meminta pemerintah mengambil langkah antisipatif tanpa menunggu lonjakan pasien.

​“Masyarakat tidak boleh terus-menerus menanggung risiko kesehatan akibat kabut asap setiap musim karhutla. Negara harus hadir melalui layanan kesehatan yang siap, perlindungan kelompok rentan, dan langkah pencegahan nyata,” tegasnya.

​Ia menekankan pentingnya penguatan fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas) sebagai garda terdepan dalam merespons krisis kesehatan masyarakat. Ketersediaan obat-obatan, oksigen, hingga kesiapan skema rujukan medis harus dipastikan sejak dini.

​Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia, dan penderita penyakit pernapasan kronis yang paling berisiko saat kualitas udara memburuk.

​Urgensi penanganan kesehatan ini diperkuat oleh data Kementerian Kesehatan per 13 Oktober 2026 yang mencatat sebanyak 283.270 kasus ISPA tersebar di 63 kabupaten/kota. Dari total angka tersebut, sebanyak 63.711 kasus menyerang balita (usia 0–5 tahun).

​Edy menilai, lonjakan angka ini menjadi sinyal bahaya agar penanganan medis dan pengawasan lingkungan berjalan selaras.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

​Selain perlindungan bagi warga, Edy menyoroti nasib para relawan kemanusiaan di lapangan. Banyak di antara mereka yang bertaruh nyawa memadamkan api, namun masih minim dukungan untuk kebutuhan dasar.

​“Banyak keluhan dari relawan yang belum mendapat perhatian. Mereka adalah pekerja sosial. Saya berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan para relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla,” pintanya.

​Edy berharap pemerintah membangun sistem kesiapsiagaan secara berkelanjutan dan terpadu—meliputi pemadaman api, layanan medis, perlindungan kelompok rentan, hingga dukungan bagi relawan—tanpa harus menunggu krisis meluas.

Quote