Tasikmalaya, Gesuri.id - Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Nanang Romli, menyayangkan adanya temuan menu Makan Gizi Gratis (MBG) berkutu yang disajikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Manggungjaya, Kecamatan Rajapolah.
Ia menilai kejadian tersebut sangat memprihatinkan karena program MBG diperuntukkan bagi para pelajar.
“Tentu saya sebagai anggota DPRD yang mewakili daerah pemilihan (Dapil) 2 termasuk Kecamatan Rajapolah. Sangat prihatin dengan adanya menu MBG berkutu,” kata Nanang Romli, Sabtu (7/3/2026).
Ia menegaskan, dapur SPPG yang menyajikan menu MBG berkutu di Rajapolah seharusnya segera ditindak tegas. Bahkan menurutnya, jika diperlukan operasional dapur tersebut perlu dihentikan sementara hingga ada perbaikan dalam pengelolaan makanan.
“BGN harusnya menangguhkan dapur SPPG yang menyajikan menu MBG yang tidak layak di konsumsi oleh para pelajar. Ini program makanan bergizi bukan sebaliknya apalagi berkutu,” tegasnya.
Nanang Romli menjelaskan bahwa program MBG berkaitan langsung dengan kebutuhan gizi para pelajar sebagai generasi penerus bangsa, sekaligus menyangkut kredibilitas negara dalam menjamin kualitas asupan makanan bagi anak-anak sekolah.
“Dengan adanya temuan menu MBG berkutu, semestinya ada evaluasi juga oleh pihak berwenang. Juga vendor atau supplier SPPG untuk lebih teliti,” ucapnya.
Ia menambahkan, ketelitian dalam pengelolaan makanan sangat penting, mulai dari proses penyimpanan hingga pendistribusian, agar kebersihan dan kualitas makanan yang disajikan tetap terjaga.
“Hal tersebut, tujuannya tentu untuk menjamin keamanan makanan yang di sajikan untuk siswa-siswi Sekolah. Maka Dinas Kesehatan harus lebih ekstra mengawasi program MBG,” ujarnya.
Selain itu, Nanang Romli juga mengimbau orangtua murid, guru, maupun kepala sekolah agar tidak ragu melaporkan apabila menemukan makanan dari program MBG yang tidak layak dikonsumsi.
“Bagi orangtua atau wali murid, segera lapor ke pihak Sekolah atau yang berwenang jika anak-anak mendapatkan menu MBG. Yang tidak layak di konsumsi apalagi makanan berkutu dan berjamur,” tuturnya.
Ia menilai laporan dari masyarakat sangat penting agar program MBG yang menggunakan anggaran besar dapat berjalan sesuai tujuan dan standar yang telah ditetapkan.
“Seharusnya malu, program MBG dengan anggaran triliyunan tetapi masih ada menu yang di sajikan dapur SPPG. Makanannya berkutu atau tidak layak di konsumsi anak-anak Sekolah, ini jelas keterlaluan. Maka jika perlu tutup dapur SPPG-nya,” pungkasnya.

















































































