Ikuti Kami

Gelar Wayang Kulit di Magelang, Vita Ervina Gelar Sosialisasi Program KB dan Kebudayaan

Acara tersebut sekaligus menunaikan janjinya untuk berkumpul bersama para pendukung melalui seni tradisi.

Gelar Wayang Kulit di Magelang, Vita Ervina Gelar Sosialisasi Program KB dan Kebudayaan
Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, menggelar pertunjukan wayang kulit sekaligus sosialisasi Program Pembangunan Keluarga Berencana (KB) di Kafe Galan Living, Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Kamis (22/10/2026) malam.

​Acara yang menghadirkan dalang Ki Sunarpo Guno Prayitno asal Purworejo ini disaksikan sekitar 350 tamu undangan dan pendukung Vita dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VI—meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan Purworejo.

​Selain sosialisasi program kesehatan, pagelaran ini menjadi wujud rasa syukur Vita atas kepercayaan masyarakat yang kembali memilihnya sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2024. Acara tersebut sekaligus menunaikan janjinya untuk berkumpul bersama para pendukung melalui seni tradisi.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​“Tentu hari ini sangat istimewa, terasa seperti berada di tengah keluarga sendiri,” ujar Vita.

​Vita mengapresiasi jajaran koordinator kecamatan (korcam) hingga koordinator desa (kordes) partai yang terus mendukungnya. Ia berharap kebersamaan dan silaturahmi ini terus terawat demi memperjuangkan aspirasi masyarakat.

​“Saya berharap kita bisa sama-sama memberikan manfaat bagi masyarakat. Di tengah adanya kebijakan efisiensi, semoga aspirasi dan harapan warga tetap dapat terwujud,” tutur legislator asal Komisi IX DPR RI tersebut.

​Vita menekankan pentingnya pembangunan ketahanan masyarakat yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Menurutnya, pemenuhan gizi anak, pendampingan remaja, serta pengawasan kesehatan keluarga menjadi fondasi lahirnya generasi yang berkualitas dan mandiri.

​Ia juga menambahkan bahwa seni wayang kulit mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat relevan dengan pembangunan karakter bangsa.

​“Dalam pagelaran wayang ini kita bisa memetik makna tentang keberanian, memegang amanah, ketulusan mengabdi, hingga kebijaksanaan dalam menjaga persaudaraan,” tambahnya.

​Kegiatan sosialisasi bersama mitra kerja ini turut dihadiri perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN.
​Direktur Bina Ketahanan Keluarga Lansia Kemendukbangga/BKKBN, Uci Hasmana, menjelaskan sejarah dan arah kebijakan KB di Indonesia. 

Menurutnya, jika pada era 1970-an fokus program KB adalah mengendalikan ledakan penduduk (baby boomer), kini fokus pemerintah beralih pada peningkatan kualitas keluarga.

​“Kemendukbangga memiliki tiga pilar utama, yaitu pembangunan keluarga, kependudukan, dan program keluarga berencana. Tujuannya adalah melahirkan keluarga-keluarga Indonesia yang berkualitas,” kata Uci.

​Uci mengungkapkan, saat ini proporsi remaja di Indonesia mencapai hampir 50 persen, sementara populasi lanjut usia (lansia) meningkat hingga 12 persen. Kondisi lansia yang rentan mengalami kesepian memerlukan perhatian khusus dari keluarga dan lingkungan sekitar.

​Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk mencegah pernikahan usia dini demi menekan angka tengkes (stunting) guna menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

​“Pernikahan di bawah umur berisiko tinggi menyebabkan stunting. Prinsip '4 Terlalu'—terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu banyak anak—sangat berisiko bagi kesehatan ibu dan bayi,” tegas Uci.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​Senada dengan Uci, Iwan Dwi Antoro dari Kemendukbangga Jawa Tengah menegaskan bahwa program KB saat ini tidak membatasi jumlah anak, melainkan mengatur jarak kelahiran agar tumbuh kembang anak lebih optimal.

​“Program KB mengatur jarak kelahiran agar tidak terjadi stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Pemenuhan gizi dan kecukupan protein bagi anak balita harus selalu diprioritaskan,” kata Iwan.

​Merespons paparan tersebut, Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB PPPA) Kabupaten Magelang, Taufik, mengusulkan pembentukan Sekolah Lansia di wilayahnya.

​“Di Kabupaten Magelang ada 21 kecamatan. Kami berharap program Sekolah Lansia bisa diturunkan dan direalisasikan di sini,” pungkas Taufik.

Quote