Ikuti Kami

Giri Ramanda Kiemas: Perkembangan AI Perlu Diikuti Penguatan Literasi Sejarah dan Kebangsaan

Pemahaman tentang ideologi negara Pancasila harus menyesuaikan dengan zaman.

Giri Ramanda Kiemas: Perkembangan AI Perlu Diikuti Penguatan Literasi Sejarah dan Kebangsaan
Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Giri Ramanda Kiemas.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Giri Ramanda Kiemas, mengatakan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) perlu diikuti dengan penguatan literasi sejarah dan kebangsaan. Hal itu disampaikannya saat peluncuran AI Pancasila oleh Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI) dalam Kursus Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (IWAK) Seri #5, dikutip Rabu (2/9/2026).

“Pemahaman tentang ideologi negara Pancasila harus menyesuaikan dengan zaman. Salah satunya kita harus memberikan informasi yang benar tentang Pancasila dan sejarahnya melalui pendekatan kekinian, terutama menggunakan teknologi AI,” ujar Giri.

Menurut Giri, perkembangan teknologi AI membuka peluang untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai Pancasila dan sejarah Indonesia. Namun, pemanfaatannya tetap harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat dalam memilah dan memverifikasi informasi yang diterima.

Ia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati ketika memperoleh informasi sejarah melalui internet maupun AI. Informasi yang tidak memiliki sumber jelas dapat terus disebarkan dan pada akhirnya dianggap sebagai fakta.

Giri menyebut sumber primer seperti Risalah BPUPK/PPKI, teks pidato 1 Juni, dan arsip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai rujukan utama untuk memeriksa informasi mengenai sejarah Pancasila. Sementara itu, konten digital seperti blog, Wikipedia, video media sosial, dan hasil AI generatif perlu diverifikasi kembali.

AI Pancasila sendiri diperkenalkan Genmuda ISRI dalam Kursus IWAK Seri #5 bertajuk “Pancasila Era AI: Edukasi Netizen Gen Z dan Antisipasi Distraksi Digital” yang digelar secara daring. Platform tersebut dirancang untuk membantu masyarakat mempelajari Pancasila, sejarah, dan wawasan kebangsaan sekaligus menghadapi penyebaran informasi yang keliru di ruang digital.

Ketua Bidang Pendidikan, Riset, dan Inovasi Genmuda ISRI, Dr. Muhammad Rizky Pribadi, mengatakan teknologi AI memiliki risiko menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi tidak sesuai dengan fakta.

“Memanfaatkan AI untuk Pancasila berarti kita mengintegrasikan etika kebangsaan ke dalam algoritma. Teknologi harus mengabdi pada kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial,” kata Rizky.

Menurut Rizky, AI Pancasila dikembangkan menggunakan dokumen yang telah dikurasi dan diverifikasi. Basis pengetahuannya mencakup dokumen BPIP, karya dan pidato Ir. Sukarno, arsip ANRI, serta sejumlah sumber otentik lainnya.

Pengembang menyebut sebanyak 3.646 halaman dokumen telah diperiksa. Sebanyak 32 dokumen resmi dikurasi dan melalui lima tahap verifikasi manual pada setiap dokumen. Jawaban yang diberikan platform juga mencantumkan sumber rujukannya.

AI Pancasila ditujukan bagi pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat umum. Berbeda dengan AI generatif umum, platform tersebut secara khusus difokuskan pada pertanyaan mengenai Pancasila dan wawasan kebangsaan Indonesia.

Direktur Pengkajian Kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP, Prof. Dr. M. Sabri, M.A., mengatakan teknologi dapat membantu memperluas pengetahuan mengenai Pancasila, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan dan pengalaman sosial di masyarakat.

“AI populer di masyarakat memberikan jawaban cepat, tetapi tidak selalu mendalam. Keteladanan yang hidup sehari-hari di masyarakat kita tidak ada dalam AI,” ujar Sabri.

Ia menilai nilai-nilai Pancasila perlu terus dipahami dan dikontekstualisasikan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, termasuk di tengah perubahan pola konsumsi informasi generasi muda.

Kursus IWAK Seri #5 diikuti guru, mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Peserta membahas penggunaan AI untuk memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila serta tantangan kebangsaan di era digital.

Ketua Umum Genmuda ISRI Diasma Sandi Swandaru mengatakan pihaknya juga membuka partisipasi masyarakat untuk membantu memperkaya sumber pengetahuan AI Pancasila.

Masyarakat dapat mengirimkan dokumen, buku, tesis, disertasi, maupun hasil penelitian yang relevan melalui email [generasimuda.isri@gmail.com](mailto:generasimuda.isri@gmail.com).

Genmuda ISRI juga berencana mengembangkan permainan digital bertema Pancasila sebagai media pembelajaran yang lebih dekat dengan generasi muda.

Peluncuran AI Pancasila menjadi salah satu upaya Genmuda ISRI memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap informasi Pancasila dan wawasan kebangsaan, dengan tetap mengutamakan sumber sejarah dan kajian yang dapat diverifikasi.

Quote