Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Edi Purwanto, mendorong Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meyakinkan Presiden Prabowo Subianto agar menambah anggaran Kementerian Perhubungan.
Menurutnya, tambahan anggaran diperlukan untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi dan mencegah berulangnya kecelakaan di berbagai moda transportasi.
“Sekarang kan saya sampaikan backlog perhubungan itu Rp26 triliun, itu dipenuhi saja, selesai,” kata Edi saat dialog Sapa Indonesia Pagi KompasTV, dikutip Rabu (5/8/2026).
Edi menjelaskan, kebutuhan anggaran di sektor perhubungan selama ini masih sangat besar. Namun, ia mengingatkan bahwa mekanisme penyusunan anggaran berada di tangan pemerintah, sementara DPR menjalankan fungsi penganggaran melalui pembahasan bersama.
“Tapi yang formulasikan dari eksekutif gitu loh,” tegasnya.
Karena itu, Edi meminta Menteri Perhubungan menyampaikan secara langsung kepada Presiden mengenai kondisi riil sektor transportasi yang membutuhkan dukungan anggaran lebih besar, mulai dari perkeretaapian, transportasi laut, pelabuhan, hingga terminal.
“Maka kita sarankan Pak (Menteri) Perhubungan meyakinkan Presiden, ‘Ini loh Pak, kaitan dengan kereta api kita seperti ini. Ini loh Pak kaitan kita dengan kapal-kapal kita sudah seperti ini. Ini kondisi pelabuhan kita seperti ini. Teknologinya seperti ini. Ini kondisi terminal-terminal kita seperti ini," ungkapnya.
Menurut Edi, penambahan anggaran perlu dirasionalisasikan kepada Presiden dan Menteri Keuangan agar menjadi prioritas pemerintah. Setelah itu, pembahasannya dapat dilakukan secara lebih rinci bersama DPR.
“Nah, kita dorong Pak Menteri berkomunikasi langsung dengan Presiden. Ini menyangkut wajah negara kita, wajah keberhasilan kita,” tegasnya.
“Ketika terjadi terus, mohon maaf dengan segala hormat, berarti kita semua gagal. Kami gagal, eksekutif juga gagal. Negara tidak hadir dianggap oleh rakyat,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep, Madura, pada Minggu (2/8/2026), yang menewaskan sedikitnya lima orang dan memicu operasi pencarian serta evakuasi terhadap para korban.
Edi juga mengingatkan bahwa kecelakaan transportasi yang terus berulang berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah apabila tidak diikuti langkah perbaikan yang nyata dan konsisten.
“Takutnya rakyat distrust kepada kita semua. Nah, kami enggak ingin juga, rapat terus hasilnya apa, implementasinya apa, tindak lanjutnya apa, konsistensi kita seperti apa, kaitan dengan penegakan aturan,” pungkasnya.

















































































