Jakarta, Gesuri.id – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengecam keras aksi promosi minuman keras (miras) berkedok tantangan (challenge) membaca Al-Qur'an pada ajang festival musik The Sounds Project 2026.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan bakal mengambil langkah konkret dan tindakan tegas atas insiden yang memicu keresahan masyarakat tersebut.
Guna mengusut tuntas kasus ini, Pramono menginstruksikan Asisten Kesejahteraan Rakyat (Askesra) Setda DKI Jakarta untuk memimpin koordinasi lintas instansi. Langkah ini diambil karena aksi tersebut dinilai telah menodai norma sosial dan keagamaan di Ibu Kota.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Saya telah meminta Pak Asisten Kesejahteraan Rakyat untuk segera berkoordinasi dan mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran yang tidak seharusnya terjadi di Jakarta ini," tegas Pramono Anung saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Pramono menyampaikan keprihatinan mendalam atas terjadinya insiden tersebut. Menurutnya, mengaitkan komoditas minuman beralkohol dengan simbol keagamaan berpotensi merusak iklim kerukunan serta toleransi antarumat beragama yang selama ini dijaga ketat di Jakarta.
"Promosi minuman keras yang viral ini, apalagi sampai dikaitkan dengan kegiatan keagamaan, sungguh menodai kehidupan beragama yang kita jaga bersama di Jakarta," lanjutnya.
Peristiwa yang memicu gelombang kecaman publik ini bermula saat seorang pengunjung melafalkan Surah Ad-Duha di depan stan (booth) produk miras Newport pada area festival The Sounds Project, Minggu (9/8/2026).
Usai membaca surah tersebut, pengunjung itu diberi sebotol minuman beralkohol gratis diiringi sorak-sorai pengunjung lain.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Menanggapi kegaduhan yang meluas di media sosial, pemandu acara (Master of Ceremony/MC) di stan tersebut, Ega, menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui akun Threads pribadinya, @aqueer_.
Ega menjelaskan bahwa insiden tersebut murni akibat aksi spontanitas seorang pengunjung berbaju putih yang tiba-tiba merebut mikrofon saat jeda acara. Pengunjung tersebut kemudian melemparkan sayembara membaca Al-Qur'an berhadiah miras kepada audiens di lokasi.
Meski demikian, Ega mengakui kelalaiannya karena tidak segera mengambil alih mikrofon dan mengendalikan situasi. Ia menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas kelemahan pengawasannya selama acara berlangsung dan berjanji menjadikannya sebagai bahan evaluasi profesional.

















































































