Ikuti Kami

Putra: Nobar Piala Dunia Jangan 'Jawa Sentris', Orang di Papua Juga Harus Ada Nobar 

Putra menyayangkan pola pikir yang seolah hanya berfokus pada kota-kota besar yang sarana prasarananya sudah memadai.

Putra: Nobar Piala Dunia Jangan 'Jawa Sentris', Orang di Papua Juga Harus Ada Nobar 
Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan terkejut nobar opening Piala Dunia hanya terpusat di Pulau Jawa, satu di Jakarta dan satu di Bandung. Sementara masyarakat yang ada di wilayah Inndonesia Timur tidak ada gelaran nobar Piala Dunia. 

"Ini mau Jawa Sentris atau mau kita sebar. Ngono yo ngono. Tapi jangan begitu begitu dong," kata Putra dalam Raker dengan LPP TVRI, RRI dan Antara pada Selasa (9/6) di Jakarta. 

Putra menyayangkan pola pikir yang seolah hanya berfokus pada kota-kota besar yang sarana prasarananya sudah memadai. Ia mempertanyakan mengapa kemeriahan ajang kelas dunia ini tidak dihadirkan langsung ke tengah masyarakat daerah.

Baca: Ganjar Ingatkan Kader Banteng se-Jatim: Jaga Uang Rakyat

"Ini mau Jawa Sentris atau kita mau sebar? Kok kick-off awalnya itu Jakarta-Bandung pakai Whoosh yang cuma 30 menit? Kenapa nggak dibikin di Ambon? Kenapa nggak di NTT? Kenapa nggak di Papua atau Makassar? Piala Dunia ini punya kita semua," serunya.

Lebih lanjut, Putra yang merupakan wakil rakyat dari Dapil Jakarta Timur ini menegaskan bahwa pembelaannya terhadap Indonesia Timur murni karena dorongan rasa keadilan. Ia membeberkan sejumlah kejanggalan antara penyerapan anggaran dengan realisasi perluasan jangkauan siaran TVRI.

Menurut data yang ia jabarkan, Direktorat Teknik TVRI telah menyerap anggaran hingga 82 persen. Namun, ironisnya, kenaikan jangkauan siaran ke masyarakat (LPB TVRI) hanya bertambah 2 persen menjadi 77 persen.

Ketimpangan juga terlihat pada serapan anggaran Pengembangan Usaha (26 persen) yang digunakan untuk menggelar acara nobar. Putra mengkritik keras mengapa nobar tersebut justru digelar di kota-kota besar yang frekuensi siarannya sudah sangat baik.

"Kenapa nobar-nobar ini tidak banyak di Papua? Tidak banyak di daerah-daerah Indonesia Tengah dan Timur? Malah lebih banyak di daerah yang siarannya sudah terjangkau. Di awal kita bicara keberpihakan, tapi ini tidak tercermin di dalam paparan dan anggaran dari tim direksi TVRI," cecar Putra.

Baca: Ganjar Pranowo Akui Belajar Industri Kreatif dari K-POP

Selain masalah infrastruktur dan lokasi nobar, Putra juga menyoroti rendahnya serapan anggaran Pusat Pendidikan dan Pelatihan yang baru mencapai 16 persen. Padahal, momen Piala Dunia adalah siaran paling krusial dan bersejarah bagi TVRI yang akan ditonton jutaan pasang mata.

"Kenapa enggak digaspol dari awal untuk mempersiapkan SDM-nya? Anggaran pendidikannya cuma 16 persen," tambahnya.

Putra mengingatkan bahwa hakikat dari program penyiaran ini adalah untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. "Setelah kita berbusa-busa rapat, ternyata hasilnya masih berpihak pada daerah-daerah yang memang sudah menjadi jangkauan TVRI. Kick-off tinggal beberapa hari lagi, tapi sayang sekali saudara-saudara kita (di daerah) tidak bisa menyaksikan tayangan dunia ini. Ini merupakan kekecewaan kita," tutup Putra.

Quote