Jakarta, Gesuri.id– Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. Rapidin Simbolon, M.M., meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Rapidin menilai, program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut akan jauh lebih efektif jika penyalurannya diubah secara mendasar dan dibuat lebih selektif.
Kritik dan usulan tersebut disampaikan Rapidin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XIII DPR RI bersama Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Rapidin menegaskan, pada dasarnya PDI Perjuangan mendukung penuh program MBG. Namun, potret di lapangan menunjukkan adanya ketidakefektifan anggaran karena bantuan diberikan secara rata tanpa memedulikan status ekonomi siswa.
"PDI Perjuangan sangat setuju dengan Makanan Bergizi Gratis. Tetapi pola sistemnya yang kurang enak bagi kami. Pertama, merata seluruhnya dikasih MBG, sehingga menurut saya ini kurang efektif. Tidak semua siswa membutuhkan MBG itu," kata Rapidin.
Berdasarkan aspirasi masyarakat yang ia serap saat berkeliling di daerah pemilihannya di Sumatera Utara, Rapidin mengungkapkan bahwa sekitar 30 persen siswa sebenarnya berasal dari keluarga mampu yang gizi harian anaknya sudah terpenuhi.
Ia menyarankan pemerintah melakukan pemetaan ulang agar anggaran negara tidak terbuang percuma untuk kelompok yang tidak membutuhkan.
"Kalau boleh, yang 30 persen ini tidak diberikan, tetapi dialokasikan ke sektor lain. Misalnya untuk perbaikan sekolah yang rusak dan sebagainya," ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara tersebut.
Selain masalah ketepatan sasaran, Rapidin membawa pesan langsung dari para ibu rumah tangga di daerah. Banyak orang tua murid yang mengusulkan agar anggaran makan siang tersebut diberikan dalam bentuk dana segar langsung kepada keluarga penerima manfaat.
Baca: Ganjar Beri Kunci Untuk Dapatkan Pekerjaan Bagi Generasi Muda
"MBG itu, kata ibu-ibu, biarkanlah diberikan kepada ibunya. Biar ibunya yang memasak dan ibunya sendiri yang memberikan kepada anaknya," tutur Rapidin.
Menurutnya, skema swakelola oleh ibu rumah tangga ini memiliki dua keuntungan besar:
- Mencegah Pemborosan: Mengeliminasi risiko makanan katering yang terbuang percuma akibat tidak habis dikonsumsi siswa.
- Memperketat Pengawasan: Orang tua memiliki kontrol penuh terhadap higienitas dan kualitas gizi yang masuk ke tubuh anak mereka.

















































































