Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri Dorong Asia-Pasifik Perkuat Kerja Sama Bangun Ketahanan Air dan Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Menurut Prof. Rokhmin, krisis air, degradasi lingkungan, dan perubahan iklim merupakan persoalan lintas negara.

Rokhmin Dahuri Dorong Asia-Pasifik Perkuat Kerja Sama Bangun Ketahanan Air dan Hadapi Dampak Perubahan Iklim
Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, M.S., saat menghadiri The 3rd Roundtable on Climate and Water Issues dan The 9th Meeting of the Asian Parliamentary Assembly Water Consultative Council (AAWC) di Vientiane, Laos, pada 28–29 Juli 2026.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, M.S., mendorong negara-negara di kawasan Asia-Pasifik memperkuat kerja sama dalam membangun ketahanan air dan menghadapi dampak perubahan iklim. 

Gagasan tersebut disampaikan saat menghadiri The 3rd Roundtable on Climate and Water Issues dan The 9th Meeting of the Asian Parliamentary Assembly Water Consultative Council (AAWC) di Vientiane, Laos, pada 28–29 Juli 2026.

"Kerja sama internasional harus diarahkan pada solusi yang nyata. Tantangan perubahan iklim, pencemaran, hingga krisis air butuh sinergi lewat alih teknologi, peningkatan SDM, penguatan kelembagaan, serta investasi berkelanjutan," kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Prof. Rokhmin, krisis air, degradasi lingkungan, dan perubahan iklim merupakan persoalan lintas negara yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Karena itu, kolaborasi antarnegara menjadi kunci untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

Forum yang mempertemukan pimpinan parlemen, pakar air, dan diplomat dari 14 negara Asia-Pasifik tersebut menjadi ajang penting untuk merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan pengelolaan air di kawasan.

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin juga mengapresiasi kemajuan Republik Korea dalam teknologi dan tata kelola air yang telah memberikan manfaat bagi Indonesia. 

Ia menawarkan tiga bidang prioritas kerja sama konkret antara Indonesia dan Korea, yakni pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu, modernisasi sektor pertanian, serta teknologi desalinasi air laut berbasis energi surya untuk pulau-pulau kecil.

"Pemanfaatan desalinasi berbasis energi terbarukan akan memperkuat ketahanan air sekaligus mendukung SDGs tujuan keenam soal akses air bersih dan sanitasi layak," jelasnya.

Selain menyampaikan gagasan, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu juga akan mengajukan sejumlah proposal proyek prioritas kepada AAWC. Proposal tersebut meliputi Integrated Water Safety Management in Citarum River (Sungai Citarum), Wastewater Management for Jakarta Area (pengelolaan air limbah Jakarta), serta Integrated Irrigation Management System untuk mendukung sektor pertanian di wilayah Cirebon–Indramayu.

"Air adalah fondasi kehidupan, pembangunan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Pengelolaannya harus menjadi agenda bersama antara parlemen, pemerintah, dunia usaha, kampus, dan masyarakat," pungkasnya.

Quote