Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Samuel JD Wattimena mengedepankan filosofi Jawa yakni ‘ Urip Iku Urup ‘ menjadi cermin sikapnya dalam pengabdianya sebagai wakil rakyat
“Pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang satu individu, melainkan tentang upaya menyalakan api harapan, hidup harus memberi manfaat bagi sekitar,” kata Samuel.
Samuel Wattinema yang juga dikenal sebagai disainer busana profesional tak segan langsung turun ke lapangan mendengarkan dan menyampaikan aspirasi masyarakat.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Sejak dilantik sebagai Anggota DPR RI pada Oktober 2024, Samuel Wattimena memilih memaknai jabatan bukan sekadar sebagai amanah politik, melainkan sebagai jalan pengabdian kepada rakyat.
Ia menegaskan bahwa, komitmenya berangkat dari nilai yang dipegang teguh dari partainya.
“Satya Eva Jayate, kebenaran akan menang, satu komitmen untuk mendekat ke denyut kehidupan ditengah masyarakat,” kata Samueal Kepada JATENGPOS, saat mengunjungi Kawasan Kota Lama Semarang, belum lama ini.
Pada awal masa tugasnya, Samuel menunjukkan konsistensi nyata yang tidak melulu bersifat simbolik.
Ia, langsung turun ke daerah, khususnya daerah prioritasnya yakni Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Salatiga, tiga kali setiap bulan, menemui warga, pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga pengelola desa wisata,
“Mendengar langsung keluhan masyarakat, khususya pelaku UMKM dan pengelola wisata. Saya bisa lebih memahami tentang akses permodalan, pemasaran produk, hingga tantangan menjaga identitas lokal di tengah arus modernisasi yang diinginkan masyarakat,” ujarnya.
Lanjutnya, dari pertemuan-pertemuan tersebut, menjadi arah pengabdiannya menemukan pijakan yang nyata, memperkuat ekonomi rakyat berbasis kreativitas dan kearifan lokal.
Perhatian Samuel terhadap UMKM, khususnya yang bergerak di bidang fesyen, tidak bisa dilepaskan dari latar belakang profesionalnya sebagai desainer. Namun pengalaman itu tidak ia jadikan panggung personal, melainkan alat untuk pemberdayaan.
“Memberikan dorongan untuk pelaku UMKM fesyen agar mereka berani menjadikan budaya lokal sebagai sumber inspirasi utama: batik, tenun, motif tradisional, dan narasi daerah sebagai identitas yang membedakan produk mereka di pasar nasional maupun global,” imbuhnya.
Baginya, fesyen bukan merupakan sekadar soal tren, tetapi medium kebudayaan dan alat perjuangan ekonomi.
Selain itu, Samuel juga aktif mendorong pengembangan desa wisata dan ekosistem pariwisata berbasis masyarakat.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Pelatihan bagi pelaku pariwisata, mulai dari pengelola objek wisata, pemandu lokal, hingga komunitas kreatif menjadi bagian penting dari kinerja Samuel yang dilakukan di daerah.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI, Samuel termasuk figur yang aktif dalam pembahasan RUU Kepariwisataan, serta terlibat dalam kelompok kerja Panja Pariwisata dan Panja Desa Wisata.
“Benang merah dari seluruh perjalanan ini adalah keyakinan bahwa pembangunan harus bersifat terintegrasi. UMKM, fesyen, pariwisata, dan budaya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

















































































