Ikuti Kami

Samuel Wattimena Minta Edukasi Pertempuran Lima Hari Semarang Diperluas ke Kampung

Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.

Samuel Wattimena Minta Edukasi Pertempuran Lima Hari Semarang Diperluas ke Kampung
Anggota DPR RI, Samuel Wattimena.

Semarang, Gesuri.id – Anggota DPR RI, Samuel Wattimena, mendorong agar pameran sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang tidak hanya diselenggarakan di ruang pamer, tetapi juga diperluas hingga ke kampung-kampung. 

Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal itu disampaikan Samuel saat menghadiri pembukaan pameran bertajuk “Dari Semarang Kita Mulai” di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10). 

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

Pameran yang diselenggarakan bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang tersebut berlangsung pada 15–20 Oktober 2026 dan terbuka untuk umum secara gratis.

Samuel menilai, penyelenggaraan pameran merupakan langkah penting untuk mengenalkan kembali peristiwa bersejarah yang terjadi pada 15–19 Oktober 1945. Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu dilanjutkan dengan program edukasi yang menjangkau masyarakat lebih luas agar sejarah tidak hanya dikenal oleh kalangan tertentu.

“50 persen penyampaian sejarah ke generasi muda sudah terjadi. Menurut saya, kalau Pertempuran Lima Hari ini terjadi tahun 1945, kemudian di tahun 2026 pemahaman generasi muda masih 50 persen, ini harus digas, harus digas,” ujar Samuel.

Ia menekankan bahwa pengenalan sejarah perlu dilakukan secara lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Kampung-kampung dinilai dapat menjadi ruang edukasi yang efektif untuk memperkenalkan kisah perjuangan lokal kepada warga, termasuk anak-anak dan remaja yang belum banyak mengenal peristiwa tersebut.

“Ini harus dibawa ke kampung-kampung, karena orang kampung tidak banyak yang tahu. Pameran diharapkan ada follow up,” kata Samuel.

Pertempuran Lima Hari di Semarang merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran yang berlangsung pada Oktober 1945 itu melibatkan pemuda, anggota kepolisian, pejuang, dan masyarakat sipil dalam menghadapi tentara Jepang. Peristiwa tersebut juga berkaitan dengan gugurnya dr. Kariadi ketika hendak memeriksa kabar dugaan peracunan sumber air di Reservoir Siranda.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

Melalui pameran ini, pengunjung dapat mengenal kronologi pertempuran dan kisah para saksi yang mengalami langsung situasi pada masa itu. Kurator pameran, Mozes Christian Budiono, menjelaskan bahwa materi yang ditampilkan mencakup pengalaman berbagai kalangan, mulai dari mereka yang memiliki latar belakang militer hingga warga sipil dan perempuan. Kesaksian tersebut bersumber dari arsip dan wawancara yang menyimpan ingatan para pelaku sejarah.

Dorongan Samuel agar pameran diperluas menjadi pengingat bahwa pelestarian sejarah tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Kerja sama antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas sejarah, dan masyarakat diperlukan agar pengetahuan sejarah dapat disampaikan secara berkelanjutan dengan metode yang menarik dan mudah dipahami.

Dengan memperluas edukasi sejarah hingga ke lingkungan masyarakat, nilai perjuangan Pertempuran Lima Hari di Semarang diharapkan semakin dikenal oleh generasi muda. Upaya tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sejarah daerah dan memahami bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan yang perlu dihargai serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Quote