Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menggelar sayembara penangkapan begal.
Menurut Rafael, langkah tersebut menyimpang dari fungsi dan prioritas utama seorang kepala daerah dalam mengelola anggaran publik.
Rafael menegaskan bahwa fokus utama seorang kepala daerah adalah mengalokasikan anggaran negara untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat, bukan mengadakan sayembara penangkapan pelaku kejahatan.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Bukan membuat sayembara begal," ujar Rafael saat menghadiri acara bedah buku Pidana Politik: Obstruction of Justice dan Amnesti Presiden di Bandung, Kamis (30/7).
Ia menilai kinerja kepemimpinan di Jawa Barat saat ini lebih ditonjolkan melalui konten media sosial ketimbang penanganan konkret di lapangan. Padahal, menurutnya, berbagai persoalan mendasar masih menumpuk di provinsi berpenduduk terpadat di Indonesia tersebut.
"Ini sebagai kritik juga. Kalau mau jadi kepala daerah, tidak perlu pintar-pintar, cukup jago buat konten," sentilnya.
Meski demikian, Rafael mengaku tidak heran jika opini publik masih cenderung memuji kepemimpinan gubernur saat ini. Ia membeberkan dua faktor utama di balik fenomena tersebut. Pertama, tingkat literasi dan rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat yang dinilainya masih relatif rendah.
Ia menyoroti data rata-rata lama sekolah di Jawa Barat yang baru menyentuh angka 9,2 tahun, atau setara dengan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 3.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Rata-rata lama pendidikan dari yang tidak sekolah sampai yang doktor itu 9,2 tahun. Artinya, baru SMP kelas 3 lebih dua bulan, tidak sampai lulus atau masuk kelas 1 SMA," jelasnya.
Faktor kedua adalah dominasi media sosial yang kerap membiaskan fakta di lapangan. Di era post-truth, narasi digital dinilai berpotensi membentuk persepsi publik yang berjarak dari kenyataan sebenarnya.
"Di era post-truth sekarang ini, media sosial menjembatani realitas dengan persepsi. Menggunakan pendekatan teori Joseph Goebbels, kebohongan yang diulang-ulang pada akhirnya akan dianggap sebagai kebenaran," pungkas Rafael.

















































































