Medan, Gesuri.id – Pendiri Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Sofyan Tan, menawarkan konsep pendidikan berbasis integrasi keberagaman dan subsidi silang kepada pemerintah untuk diterapkan secara luas di Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan HUT ke-39 YPSIM bertema “39 Tahun Merawat Keberagaman Bangsa” di Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, Rabu (26/8).
"Sekolah boleh cantik, boleh mewah, tetapi isinya diperuntukkan bagi orang-orang yang terzalimi secara ekonomi," tegas Sofyan Tan.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini menegaskan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam membangun generasi muda.
"Jika ingin membangun sekolah integrasi dan bermutu, Pak Menteri boleh belajar dari Perguruan Sultan Iskandar Muda. Kami siap berpartner dengan pemerintah untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," ujar Sofyan Tan.
Kilas Balik Perjuangan:
- Awal Berdiri: YPSIM lahir pada 1987 dalam kondisi yang digambarkan Sofyan Tan sebagai masa "prematur". Berbekal pinjaman bank sebesar Rp60 juta, yayasan ini bermula dari lahan 1.500 meter persegi dengan tujuh ruang kelas untuk 171 siswa. Sebagian besar siswa kala itu dibebaskan dari biaya sekolah.

- Julukan "Gila": Karena nekat mendirikan sekolah gratis bagi warga miskin, ia sempat dianggap gila. Berprofesi sebagai dokter, Sofyan Tan menyisihkan penghasilan pribadinya dan turun langsung menyisir anak-anak di bantaran sungai agar bisa mengenyam pendidikan.
- Capaian 39 Tahun: YPSIM kini menaungi jenjang TK hingga perguruan tinggi dengan total 4.533 siswa sekolah dan 7.500 mahasiswa di Universitas Satya Terra Bhinneka. Lebih dari Rp71 miliar anggaran subsidi silang dan program anak asuh telah digelontorkan untuk anak miskin.
Sementara Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyampaikan kekagumannya atas konsistensi YPSIM dalam merawat keberagaman dan keberpihakan pada masyarakat kurang mampu. Menurutnya, YPSIM telah menjadi meeting point dan melting point yang nyata bagi anak bangsa dari pelbagai latar belakang agama, suku, dan ekonomi.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
"Kalau semua lembaga pendidikan di Indonesia seperti ini, maka Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tidak diperlukan lagi. Semua sudah selesai diurus oleh masyarakat," kelakar Abdul Mu'ti yang disambut tepuk tangan hadirin.
Ia menilai apa yang dilakukan Sofyan Tan merupakan bukti konkret kontribusi masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat konstitusi.
Peringatan HUT ke-39 ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat Kemendikdasmen, pengurus yayasan, donatur, serta civitas akademika. Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng, penyerahan penghargaan masa bakti guru, dan momen spontan Mendikdasmen bernyanyi bersama Sofyan Tan dan kelompok paduan suara siswa.

















































































