Ikuti Kami

Soroti Minimnya Anggaran BPOM, Vita Ervina Desak Penguatan Pengawasan Obat dan Makanan

​Politisi PDI Perjuangan ini mengaku prihatin dengan kondisi anggaran pengawasan yang dinilai semakin mengecil.

Soroti Minimnya Anggaran BPOM, Vita Ervina Desak Penguatan Pengawasan Obat dan Makanan
Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina.

​Magelang, Gesuri.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, menyoroti pentingnya peningkatan anggaran bagi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM). 

Menurutnya, anggaran yang mumpuni sangat krusial mengingat besar dan tingginya risiko tugas pengawasan dalam mengantisipasi bahaya makanan serta obat-obatan ilegal atau mengandung zat berbahaya.

​"Dengan tugas yang sangat besar dan risiko yang tinggi dalam mengantisipasi bahaya yang diakibatkan makanan, maka pengawasan perlu ditingkatkan. Untuk mengantisipasi keamanan pangan tersebut, tugas tersebut harus disertai anggaran yang mumpuni," ujar Vita usai acara Sosialisasi Keamanan Pangan bagi Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Magelang, Jumat (10/7).

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​PolitisiPDI Perjuangan iini mengaku prihatin dengan kondisi anggaran pengawasan yang dinilai semakin mengecil. Ia berharap dukungan finansial untuk lembaga pengawas tersebut dapat ditingkatkan ke depan agar fungsi pendampingan kepada masyarakat maupun pelaku usaha berjalan lebih optimal.

​"Kami berharap anggaran ke depan bisa ditambah, sehingga bukan hanya pengawasan yang diperkuat, tetapi juga pendampingannya," tutur Vita.

​Selain menyoroti anggaran, Vita menjelaskan bahwa sosialisasi yang digelar bersama BBPOM Semarang ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya para pelaku UMKM. Melalui agenda ini, pelaku usaha diharapkan memahami proses menjaga keamanan pangan sekaligus mengetahui tahapan memperoleh perizinan resmi.

​"Sosialisasi ini juga ingin memberikan kesadaran informasi dan edukasi bagi masyarakat para pelaku UMKM terkait pengawasan obat dan makanan. Sehingga, masyarakat mengetahui obat dan makanan yang dikonsumsi lebih aman," ungkapnya.

​Pada kesempatan yang sama, Kepala BBPOM Semarang, Rustyawati, mengapresiasi tren penurunan penggunaan bahan berbahaya pada produk makanan dan obat-obatan di Jawa Tengah. Kondisi ini menjadi indikator tingginya kesadaran pelaku usaha dan masyarakat untuk mematuhi aturan.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

​"Penggunaan produk makanan dan obat-obatan yang mengandung bahan-bahan berbahaya trennya mengalami penurunan secara drastis. Penggunaan bahan pangan yang mengandung bahan berbahaya yang tadinya 10 persen dalam 10 tahun terakhir, kini hanya sekitar dua persen saja," urai Rustyawati.

​Menurutnya, penurunan signifikan ini didorong oleh literasi masyarakat yang semakin membaik serta tumbuhnya kesadaran untuk menjadi konsumen yang cerdas. Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak lengah dan tetap memantau regulasi yang dinamis.

​"Kami memerlukan masyarakat yang terus sadar akan penggunaan bahan berbahaya, baik dalam makanan maupun obat-obatan. Jika masyarakat bisa menjadi konsumen yang cerdas, maka pelaku usaha yang nakal akan berkurang," pungkasnya.

Quote