Ikuti Kami

Teja Kusuma Desak Percepatan Pembangunan Flyover–Underpass di Perlintasan Stasiun Poris

Pembangunan flyover atau underpass di lintasan Stasiun Poris adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi.

Teja Kusuma Desak Percepatan Pembangunan Flyover–Underpass di Perlintasan Stasiun Poris
Anggota DPRD Kota Tangerang dari Fraksi PDI Perjuangan Teja Kusuma - Foto: Istimewa

Tangerang, Gesuri.id - Anggota DPRD Kota Tangerang dari Fraksi PDI Perjuangan Teja Kusuma mendesak percepatan pembangunan flyover atau underpass di perlintasan rel Stasiun Poris pasca terjadinya kecelakaan antara kereta Commuter Line rute Bandara Soekarno-Hatta dan truk trailer belum lama ini.

“Pembangunan flyover atau underpass di lintasan Stasiun Poris adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Volume pengguna jalan sangat tinggi, ditambah kawasan ini dikelilingi permukiman padat penduduk. Ini soal keselamatan,” kata Teja, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, perlintasan sebidang di kawasan tersebut sudah lama menjadi titik rawan kecelakaan. Tingginya volume kendaraan yang melintas dinilai tidak lagi sebanding dengan kondisi infrastruktur yang ada saat ini.

“Kejadian ini harus memantik evaluasi total di mana pun perlintasan kereta api berada di jalur padat penduduk. Jika tidak diperbaiki infrastrukturnya melalui pembangunan flyover atau underpass, maka jalur Stasiun Poris akan terus menjadi arena gladiator tanpa solusi,” tegasnya.

Teja menjelaskan, perlintasan rel di kawasan Stasiun Poris selama ini dikenal sebagai salah satu titik dengan tingkat kemacetan tinggi di Kota Tangerang. Pada jam sibuk pagi dan sore hari, antrean kendaraan kerap mengular panjang akibat arus lalu lintas yang bertemu langsung dengan jalur rel aktif.

“Di lokasi itu, kemacetan sudah sering terjadi, kecelakaan juga berulang. Ditambah lagi permukaan rel yang lebih tinggi dari jalan membuat kendaraan, terutama yang bermuatan besar, sangat rawan tersangkut. Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri,” ujarnya.

Ia menilai, kondisi kontur rel yang relatif lebih tinggi dibandingkan badan jalan turut menjadi hambatan serius, khususnya bagi kendaraan besar seperti truk dan trailer. Situasi tersebut dinilai berisiko tinggi dan berpotensi terus memicu insiden serupa apabila tidak ada perubahan infrastruktur yang mendasar.

“Karena itu, solusinya harus konkret. Tidak cukup hanya imbauan atau pengaturan sementara. Harus ada pembangunan flyover atau underpass agar arus kendaraan dan kereta benar-benar terpisah. Ini soal keselamatan publik,” tegasnya.

Selain mendorong pembangunan fisik, Teja juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh pascakecelakaan. Ia menyebut persoalan yang muncul bukan hanya menyangkut lintasan rel, tetapi juga manajemen transportasi dan budaya tertib berlalu lintas.

“Manajemen transportasinya, kondisi dan kerusakan kereta, infrastruktur jalan, sarana publik yang rusak, hingga kerugian materiil penumpang akibat pembatalan perjalanan, semuanya harus menjadi evaluasi besar. Termasuk budaya tertib lalu lintas kita,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, kecelakaan terjadi di lintasan rel Stasiun Poris ketika kereta Commuter Line tujuan Bandara Soekarno-Hatta bertabrakan dengan truk trailer yang gagal melintasi rel. Insiden tersebut sempat mengganggu operasional kereta dan aktivitas warga pada jam sibuk pagi hari. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil dan keterlambatan perjalanan penumpang menjadi dampak nyata dari peristiwa tersebut.

“Keselamatan warga harus menjadi prioritas. Jangan menunggu korban jiwa baru kita bergerak,” pungkasnya.

Quote