Parapat, Gesuri.id - Rombongan Safari Politik Kebangsaan PDI Perjuangan jilid III mengakhiri rangkaian kegiatannya di Provinsi Sumatera Utara dengan berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno di tepi bukit Danau Toba, Parapat, Senin (17/12).
Baca: PDI Perjuangan Rutin Gelar Salat Jumat di Kantor DPP
Ketua Bidang Organisasi DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, mendampingi Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, merefleksikan kunjungan ke Pesanggrahan Bung Karno tersebut. Djarot mengatakan bahwa anak bangsa wajib meneladani sisi historis para pendiri bangsa.
"Khususnya bagaimana para pemimpin bangsa mampu menghadapi tantangan itu dengan tegas, tidak cengeng, tegas," kata Djarot.

Djarot berkisah pada akhir tahun 1948, Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia, mengasingkan Proklamator dan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Awalnya, Bung Karno diasingkan di Berastagi, sekitar 110 kilometer jaraknya dari Parapat. Di situ, Bung Karno diasingkan bersama Haji Agus Salim dan Sjahrir.
Saat di Berastagi, Belanda menyewa seseorang untuk membunuh Bung Karno. Namun, sang pembunuh bayaran justru membatalkan perintah Belanda dan malah memberi tahu Putra Sang Fajar itu untuk berhati-hati. Duabelas hari di Berastagi, Belanda memindahkan Bung Karno dan kawan-kawan ke pesanggarahan di Parapat itu. Selama 2 bulan mereka 'ditawan' di sana.
Djarot lantas mengatakan keberadaan Bung Karno bersama Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir, yang notabene berbeda pandangan politiknya, membuktikan bahwa perbedaan pemikiran diantara mereka tak menjauhkan diri dari hubungan silaturahmi yang baik.
Bersama-sama, para bapak bangsa itu masih bisa berdiskusi secara produktif demi kepentingan bangsa.
"Inilah yang sebetulnya kita petik, ketika kita mengetahui akar sejarah bangsa," kata Djarot.
Baca: 'Ilmu Sirep' di Pemilu 2009 Sebabkan Kecurangan Masif
"Tentunya sekarang kita harus introspeksi karena sekarang elite semakin menurun kualitas berpikirnya. Tidak berdiskusi secara subtansif. Hanya suka berkata-kata, suka membenci, suka mencaci, suka memfitnah, tapi tidak pernah melahirkan pemikiran yang produktif untuk kebaikan bangsa ini," ujar caleg DPR RI Dapil Sumut III itu.
Setelahnya Hasto dan Djarot berserta rombongan memanjatkan doa untuk arwah para pahlawan dan pendiri bangsa.

















































































