Ikuti Kami

Ansy Lema Ingatkan Generasi Muda: Reformasi Belum Selesai, Tantangan Kini adalah Buzzer dan Politik Sembako

Waktu itu isu utama kami cuma satu: turunkan Presiden Soeharto. Itu menjadi isu bersama yang menyatukan semua elemen rakyat dan mahasiswa.

Ansy Lema Ingatkan Generasi Muda: Reformasi Belum Selesai, Tantangan Kini adalah Buzzer dan Politik Sembako
Aktivis 98 Ansy Lema - Foto: Alvin/Gesuri.id

Jakarta, Gesuri.id – Aktivis 98 yang pernah menjadi Anggota DPR RI periode 2019-2024 & 2024 (mundur karena maju Pilgub), Ansy Lema, mengingatkan bahwa perjuangan reformasi yang dimulai sejak tumbangnya rezim Orde Baru belum sepenuhnya selesai. Ia menegaskan, generasi muda hari ini harus memahami bahwa demokrasi adalah gagasan mahal yang menuntut literasi, ketahanan moral, dan kesadaran politik yang tinggi.

“Waktu itu isu utama kami cuma satu: turunkan Presiden Soeharto. Itu menjadi isu bersama yang menyatukan semua elemen rakyat dan mahasiswa. Tapi setelah itu, perjuangan belum selesai,” ujar Ansy saat berbicara dalam diskusi publik menolak gelar pahlawan nasional untuk Soeharto dengan tagar #SoehartoBukanPahlawan di Jakarta, Rabu (5/11).

Menurutnya, meski Presiden Soeharto telah lengser dan Indonesia memasuki masa transisi di bawah Presiden B.J. Habibie, perjuangan untuk perubahan menyeluruh belum benar-benar terwujud. 

“Waktu itu ada juga yang menyerukan bubarkan Golkar, tapi tidak berhasil. Banyak keterbatasan dan kelelahan setelah perjuangan panjang,” ujarnya.

Ansy menilai, hingga kini generasi 98 belum sepenuhnya menempati posisi sentral dalam struktur politik nasional. “Beberapa memang jadi anggota DPR, ada yang jadi menteri, tapi belum sampai pada level elite yang benar-benar memimpin republik ini,” katanya.

Ia menekankan, demokrasi yang diperjuangkan sejak reformasi bukanlah sistem yang otomatis menghadirkan keadilan. 

“Demokrasi itu gagasan mahal. Hanya mereka yang terliterasi dan tercerahkan yang bisa menjaganya. Kalau rakyatnya mudah tergoda uang dan sembako, maka elitenya pun akan mencerminkan itu,” tegasnya.

Ansy juga menyoroti tantangan baru di era digital, di mana ruang publik dipenuhi oleh informasi menyesatkan dan aktivitas buzzer. 

“Kalau kita terus mengonsumsi informasi sampah, kita akan jadi sick society, masyarakat yang sakit dan mudah dimanipulasi. Karena itu, penting punya daya kritis dan semangat untuk terus belajar,” jelasnya.

Menutup pesannya, Ansy mengingatkan pentingnya memilih pemimpin yang berintegritas menjelang Pemilu 2029. “Kalau pilot salah, yang celaka 500 orang di pesawat. Tapi kalau kita salah pilih pemimpin, satu bangsa bisa menderita lima tahun bahkan lebih. Pemilu 2029 akan jadi pertarungan antara buzzer dan politik sembako. Generasi muda harus jadi bentengnya,” tegasnya.

Ansy yang kini menjabat dua periode sebagai anggota DPR RI menegaskan bahwa perjalanan menuju perubahan sejati membutuhkan waktu, konsistensi, dan kesadaran kolektif. “Saya baru bisa duduk di parlemen setelah 25 tahun sejak turun ke jalan 1998. Semua ada proses. Karena itu, hati-hati memilih nakhoda republik ini,” pungkasnya.

Quote